Adat Keselamatan Bayi Pada Suku Sunda

Adat keselamatan bayi merupakan salah satu adat istiadat yang ada di wilayah Negara Indonesia dan dilakukan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan tata cara yang berbeda. Namun pada suku sunda khususnya, adat tersebut sudah merupakan hal yang harus dilakukan karena dipercaya oleh masyarakat suku sunda dapat mempengaruhi pada keselamatan bayi. Suku sunda adalah salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia, berada di wilayah paling barat pulau jawa.

Adat Keselamatan Bayi Pada Usia Kehamilan Empat Bulan

Dalam kebiasaan, kebudayaan dan adat istiadat suku sunda di jawa barat ada yang disebut dengan acara atau upacara empat bulanan ibu hamil karena pada usia kehamilan empat bulan, menurut agama islam bayi dalam kandungan sudah ditiupkan ruh oleh Allah, upacara tersebut dipercayai dan dilakukan untuk keselamatan bayi dalam kandungan. Dalam masyarakat suku sunda, wanita yang usia kehamilannya masih dalam masa dua bulan atau tiga bulan belum dikatakan sebagai hamil tetapi masih ngidam.

Pada usia kehamilan empat bulan maka wanita dapat dikatakan hamil dan perlu melakukan upacara untuk keselamatan bayi dalam kandungannya karena yang telah disebutkan tadi, bahwa pada usia kehamilan empat bulan telah ditiupkan ruh pada janin. Adat keselamatan bayi pada upacara empat bulanan ini dimaksudkan untuk memberitahukan tetangga bahwa wanita tersebut telah benar-benar hamil. Pada upaca empat bulanan, biasanya dilakukan dengan mengadakan pengajian dan do’a bersama untuk bayi dalam kandungan agar selamat dan sehat.

Adat Keselamatan Bayi Pada Usia Kehamilan Tujuh Bulan

Selain tradisi atau upacara empat bulanan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, pada masyarakat suku sunda ada pula upacara keselamatan bayi yang dilakukan pada usia kehamilan menginjak tujuh bulan atau yang biasa disebut dengan upacara tujuh bulanan. Upacara tersebut dilakukan agar si ibu yang telah mengandung akan selamat saat melahirkan dan bayinya pun sehat. Upacara tujuh bulanan yang biasa dilakukan oleh masyarakat suku sunda dinamakan pula sebagai upacara tingkeban atau penutupan.

Arti dari upacara tingkeban atau penutupan yaitu ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur lagi dengan suaminya sampai empat puluh hari setelah persalinan dan jangan bekerja terlalu berat agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Upacara tujuh bulanan atau tingkeban dilakukan dengan mengadakan pengajian dan memandikan ibu hamil, yang menjadi ciri khas upacara ini adalah rujak kanistren. Itulah adat keselamatan bayi pada usia kehamilan tujuh bulan yang dilakukan oleh masyarakat suku sunda.

Selanjutnya : Tokoh Sejarah Indonesia Kelahiran Sumatra
Sebelumnya: Gambar Baju Kebaya Paduan Bawah Batik yang Menjadi Selera Wanita
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

Loading...