Aliran Agama di Indonesia, Perbedaan Aliran dalam Islam


Ada beberapa aliran dalam agama Islam. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dan berawal dari zaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Perbedaan tersebut terjadi pula di Indonesia. Tak jarang perbedaan aliran agama di Indonesia, mendatangkan banyak perdebatan dan perselisihan, bahkan konflik yang berkepanjangan. Contohnya, pembakaran masjid dan rumah aliran Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia.

Sejarah Awal Mulanya

Seperti yang sudah dipaparkan di awal pembahasan, aliran dalam Islam muncul dan mulai tampak pada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yaitu pada waktu terjadinya Perang Sifiin pada tahun 37 Hijriah dengan Mu’awiyah. Terjadi perbedaan pendapat pada waktu Mu’awiyah terdesak dan meminta perdamaian. Kelompok Ali bin Abi Thalib pada waktu itu terbagi dua, ada yang menolak dan ada yang setuju. Pada akhirnya, kelompok yang tidak menyetujui adanya perdamaian, memisahkan diri dan menamai dirinya dengan nama Khawarij.

Aliran Khawarij, menganggap orang-orang yang melakukan perdamaian (kelompok Ali dan Mu’awiyah) adalah orang yang sudah melakukan dosa besar dan boleh dibunuh. Permasalahan mengenai perkara dosa besar ini menimbulan tiga aliran teologi dalam Islam, yaitu Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah.

Nama-nama Aliran dalam Islam

Terdapat beberapa aliran dalam agama Islam, berikut adalah nama-namanya.

1.    Aliran Khawarij

2.    Aliran Syi’ah

3.    Aliran Murji’ah

4.    Aliran Jabariyah

5.    Aliran Qodariyah

6.    Aliran Mu’tazilah

7.    Aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Sesudah munculnya aliran-aliran dalam Islam di atas, kemudian muncul banyak aliran Islam di dunia, salah satunya di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti aliran Wahabi, aliran Bahai, aliran Ahmadiyah, aliran Jamaah Tabligh, dan masih banyak lainnya.

Perbedaan pandangan dan keyakinan aliran-aliran agama di Indonesia tak jarang menimbulkan banyak pertentangan dan konflik yang merugikan umat Islam sendiri. Islam sebagai agama yang indah dan mencintai perdamaian, mengajarkan kita untuk memandang perbedaan dengan bijak, dan kesabaran. Dalam menanggapi dan menghadapi perbedaan, Nabi Muhammad Saw. bisa menjadi contoh dan suri tauladan bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi kaum muslim di Indonesia.

Selanjutnya : Protein pada Telur Ayam Terdapat di Bagian Mana?
Sebelumnya: Pentingnya Mengajak Anak Ke Pusat Mainan Anak
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar