Anjuran Jadi Pengusaha dalam Islam


Adakah anjuran jadi pengusaha dalam Islam? Untuk menjawab ini, sebenarnya dapat dengan mudah kita lihat dari sejarah kehidupan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Bukan hanya isarat lisan, tapi juga dalam bentuk perbuatan. Rasulullah adalah seorang pedagang ulung dan sukses. Sebelum diangkat jadi Nabi, beliau adalah sosok anak muda yang telah berniaga ke negeri lain. Artinya, niaga Rasulullah Saw. sudah go internasional.

Kesuksesan Rasulullah dalam berniaga tak lepas dari ketekunan beliau, kejujuran dan amanah yang dijalankannya. Dalam berdagang, modal sangat diperlukan. Namun, tanpa modal sekalipun orang dapat mejadi pengusaha. Itulah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Saw. yang membawa barang dagangan Khadijah ke negeri Syam.

Bukan hanya Rasulullah, para sahabatnya juga banyak terdiri dari pedagang ulung dan sukses. Abu Bakar Shiddiq adalah seorang pedagang, Umar bin Khattab, terlebih lagi Utsman bin Affan. Dan, yang fenomenalnya adalah sahabat Abdurrahman bin Auf yang pernah membagi-bagikan kekayaannya kepada masyarakat Madinah. Tidak tanggung-tanggung, seluruh muatan 700 unta ia bagikan. Ia juga menghibahkan 500 ekor kuda untuk pasukan muslim. Di lain kesempatan, ia juga memberikan 1500 ekor unta. Sungguh kekayaan luar biasa.

Islam tidak pernah menghambat, apalagi melarang umatnya berdagang, malah sebaliknya, yaitu menganjurkan. Kekuatan umat Islam adalah berusaha. Salah satu yang menjadi rukun Islam adalah zakat. Artinya, rukun ini berkaitan soal kekayaan. Dan, orang tidak akan membayar zakat kecuali orang-orang yang memiliki uang. Tentu dalam berdagang, Islam menggariskan rambu-rambunya. Tidak memakan riba, berlaku jujur dan amanah, serta jauh dari praktik tidak jelas yang dapat merugikan salah satu pihak.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar perlu mencontoh Rasulullah dan para sahabatnya. Dengan banyaknya para pedagang dan usahawan, maka perekonomian umat dapat terangkat. Dengan begitu akan berpengaruh terhadap kualitas pendidikan, kemandirian, penyebaran dakwah, pengetahuan, dan hal-hal positif lainnya.

Islam tidak mengajarkan umatnya hidup miskin dan menerima apa adanya tanpa usaha maksimal. Ibadah tidak berarti menjauhkan diri dari harta, namun bagaimana mengelola harta dengan baik dan berdampak positif bagi orang lain dan agama.

Selanjutnya : Bagaimana Belajar yang Benar dan Baik
Sebelumnya: Pentingnya Hubungan Komunikasi Organisasi dari Perspektif Proses
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar