Arti Motif Parang Rusak

Arti motif parang rusak menunjukkan bahwa filosofi Jawa memiliki arti yang sangat dalam. Motif parang rusak pada batik merupakan motif pakaian tradisional khas Indonesia. Tak hanya suku Jawa, hampir semua suku memiliki corak batik khas daerahnya masing-masing. Contoh batik tersohor di Pulau Jawa adalah batik daerah Solo, Jogja, dan Pekalongan. Batik motif Sido Asih, Ratu Ratih, Parangkusuma, Sekarjagad, Bokor Kencana merupakan beberapa motif batik khas Solo. Kawung, Truntum, Sidomukti, dan Batik Pamuloto adalah contoh motif batik khas Yogjakarta.

Pengertian Parang

Salah satu motif batik yang sering ditemui adalah batik motif parang. Parang berasal dari kata pereng. Pereng menurut bahasa Jawa adalah bentuk miring seperti lereng. Motif parang pada dasarnya adalah motif berbentuk huruf s yang berderet, berkelok membentuk sudut hampir 450 derajat. Motif parang berkembang menjadi beberapa motif, yaitu parang rusak, parang slobok, parang klitik, dan parang kusumo.

Filosofi Batik Parang

Batik motif parang rusak merupakan pengembangan dari motif parang yang ada sebelumnya. Arti motif parang rusak dapat didefinisikan sebagai semangat yang berkesinambungan. Garis lurus diagonal yang terbentuk adalah perlambang rasa hormat dan kesigapan dalam menyelesaikan pekerjaan.

Konon, motif parang rusak diciptakan oleh Panembahan Senopati pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Mataram. Raja senang bertapa dan terinspirasi menciptakan motif batik dari tempatnya melakukan semedi. Sang raja pun memodifikasi bentuk pereng/lembah berbaris sebagai tempatnya bersemedi menjadi motif batik. Lembah berbaris itu terlihat di sepanjang pesisir selatan tempatnya bersemedi. Sebagian lembah tampak rusak terkikis air laut pantai selatan. Motif batik ini kemudian dikenal sebagai motif Parang Rusak. Kelokan motif batik dari atas ke bawah melambangkan gelombang lautan yang berarti pikiran yang tak pernah padam.

Motif parang rusak lazim dikenakan para senopati kerajaan ketika menghadap raja untuk menerima tugas atau mengabarkan berita gembira. Saat ini, motif parang rusak biasa digunakan di dunia pendidikan (motif seragam, sampul depan piagam, kain pelindung piala) sebagai perlambang penghormatan, ketangkasan, tekad dan upaya meraih cita-cita yang dilakukan secara berkesinambungan.

Motif Parang Rusak Barong

Motif parang rusak berkembang lagi menjadi motif parang rusak barong yang diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Parang rusak barong adalah bentuk ekspresi Sultan Agung sebagai seorang raja dengan segala tugas dan kewajiban sekaligus manusia yang kecil di hadapan Sang Pencipta. Barong berarti besar, dalam motif batiknya tampak dari besarnya motif pada kain. Parang rusak barong mengandung filosofi bahwa seorang raja selayaknya berhati-hati dan mampu mengendalikan diri terutama ketika menjalankan tugas dan kewajibannya.

Uniknya, arti motif parang rusak yang demikian luhurnya ternyata dianggap tidak sesuai dikenakan dalam acara pernikahan. Menurut kepercayaan, jika motif parang rusak dikenakan di acara pernikahan maka akan mendatangkan perselisihan.

Demikianlah penjelasan tentang arti motif parang rusak. Semoga menambah wawasan dan bermanfaat bagi pembaca.

 

Selanjutnya : Kegunaan Sunnah Bagi Seorang Muslim
Sebelumnya: Cinta Sejati dari Kisah Romeo dan Juliet
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

Loading...