Arti Sosial Budaya pada Cerita Sejarah Berdirinya Pasar Tanah Abang

Tanah Abang telah menjadi pusat grosir yang paling terkenal di Jakarta. Kepopuleran Tanah Abang sebagai pusat distribusi barang-barang kebutuhan sandang gaungnya bahkan sampai ke luar, setidaknya di kawasan Asia Tenggara. Di tengah kepopulerannya sebagai pusat distribusi pakaian, dahulu kawasan ini dikenal dengan nama Kampung Tanah Abang. Menarik untuk ditelusuri bagaimana arti sosial budaya pada ceritasejarah kampung Tanah Abangyang bermula berlabelkan “kampung”.

Secara administratif wilayah Tanah Abang meliputi Kelurahan Kebon Kacang, Kampung Bali, dan Kebon Melati. Akan tetapi, masyarakat lebih mengenal wilayah Tanah Abang sekarang berpusatkan di sekitar Pasar Tanah Abang.Sejarah berdirinya pasar Tanah Abang bermula dari gagasan seorang juragan tanah Belanda bernama Justinus Vinck.

Pada abad ke-18, Justinus Vinck mengajukan permohonan untuk mendirikan pasar kepada pemerintah Belanda untuk mendirikan pasar atas namanya sendiri di daerah Tanah Abang dan daerah Senen. Ia melihat potensi besar dari daerah Tanah Abang karena dikelilingi oleh beberapa perkebunan, seperti kebun tebu, kebun kacang, kebun jahe, kebun sirih, dan lainnya. Hingga kini nama-nama kebun tersebut masih dipakai sebagai nama wilayah.

Mengenai cerita asal usul nama Tanah Abang masih berbeda satu dengan yang lainnya. Versi cerita yang paling dikenal mengartikan nama Tanah Abang berasal dari kata “abang dan adik”. Cerita ini bermula dari dua orang bersaudara yang hidup bersama, kakak dan adik. Karena adiknya tidak memiliki rumah, maka ia meminta abangnya untuk mendirikan rumah pada suatu bidang tanah. Tanah yang ditempati oleh sang adiklah yang kini dikenal sebagai Tanah Abang.

Versi cerita lainnya mengatakan bahwa asal usul nama Tanah Abang bermula dari peristiwa penyerangan Kota Batavia oleh tentara Mataram pada tahun 1628. Pasukan Mataram memulai serangan ke arah kota melalui daerah selatan Batavia. Mereka mempergunakan lokasi itu sebagai pangkalan pasukan.
Karena kawasan tersebut merupakan tanah berbukit yang terdapat rawa-rawa, sehingga daerah tersebut didominasi oleh tanah berwarna merah. Sejak saat itu, lokasi ini disebut Tanah Abang,dalam bahasa Jawa yang artinya “merah”.

Mengingat semakin pesatnya perkembangan kota, sejarah kampung-kampung di Jakarta mulai terlupakan. Dengan kembali mengingat dan mempelajari sejarah kota Jakarta, kita dapat bercerita kepada anak cucu, sehingga arti sosial budaya pada cerita sejarah perkampungan di Jakarta tidak tenggelam.

Selanjutnya : Membaca Cerpen Sejarah Islam, Cara Menyenangkan Belajar Sejarah
Sebelumnya: Tips Memulai Usaha Catering Berjalan
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

Loading...