Artikel Budaya Antri di Indonesia


Mengantri bisa diartikan sebagai proses untuk menunggu giliran atau bisa lebih jelas lagi antrian dibentuk agar jalannya giliran bisa tertib dan lancar. Sebaliknya bila antrian rusak atau amburadul, maka proses untuk mendapatkan jatah giliran menjadi tak menentu. Bisa dikatakan nantinya yang kuat ngomong, badannya besar atau orang yang tak punya rasa malu dapat giliran pertama walaupun datangnya paling akhir. Mari kita bahas topik artikel budaya antri di Indonesia ini dengan hati yang lapang.

Budaya Antri

Sebagai contoh kasus yang memprihatinkan seputar antrian, yakni banyaknya orang yang terluka bahkan meninggal saat pembagian sembako, zakat, atau bantuan sosial untuk rakyat miskin. Seakan-akan uang yang hanya puluhan atau ratusan ribu rupiah setara dengan resiko masuk dalam kerumunan orang yang tak tertib dan berbaris.

Meskipun sudah dipasang pagar besi pun, masih ada orang melanggar antrian yang sudah ditetapkan panitia. Hal ini sangat berbeda dengan budaya antri di negara Jepang. Walaupun antrian terlihat sangat panjang, warga Jepang tidak akan menyela atau menyalip orang yang ada di depan antriannya. Dengan begitu budaya antri di sana jauh lebih baik dari yang ada di Indonesia.

Untuk menanamkan kebiasaan antri memang tidak secara instan, perlu adanya sosialisasi dan pendidikan di tengah masyarakat tentang budaya antri. Secara alami budaya antri dapat ditanamkan pada seseorang saat dia masih kecil ataupun dewasa. Perlu memahamkan mereka akan pentingnya mendahulukan kepentingan bersama daripada diri sendiri.

Di sekolah taman kanak-kanak pun kita sudah dikenalkan pada budaya antrian oleh para guru. Semisal berbaris saat akan memasuki ruang belajar atau mengantri makanan dan minuman saat makan bersama digelar.

Tampaknya orang dewasa di Indonesia sulit untuk diatur dalam masalah antrian ini. Lihat saja bagaimana ketika di lampu lalu lintas yang padat. Akan terlihat banyak pengendara yang menyerobot ke sana sini untuk mendapatkan tempat di depan.

Tak jarang terjadi perselisihan akibat pelanggaran etika menunggu dan bersabar ini. Artikel budaya antri di Indonesia ini semoga dapat meningkatkan kedisiplinan kita pada aturan dan etika sosial.

Selanjutnya : Harga Jenis-Jenis Ras Anjing Peliharaan
Sebelumnya: Kritik Terhadap Psikologi Kognitif
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar