Artikel Perkembangan Media Massa Indonesia


Banyak artikel perkembangan media massa Indonesia. Dari zaman ke zaman, media massa memang selalu mengeluarkan hal baru.

Media Massa Indonesia

Media massa di Indonesia memang tak lepas dari kiprah Tirto Adhi Soerjo dalam merintis kebangkitan bangsa ini. Bahkan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer memberikan penghormatannya para Tirto Adhi Soerjo dengan menuangkan kisahnya dalam tetralogi Buru.

Tetralogi Buru yang menjadi Karya Besar Pramoedya adalah: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Tokoh sentral pada ketiga novel pertama tersebut terinspirasi dari Tirto Adhi Soerjo yang disamarkan menjadi bernama Mingke. Sedangkan pada tetralogi yang terakhir, mengambil sudut pandang orang yang menangkap Mingke.

Selain tetralogi tersebut, Pramoedya juga menyusun buku  “Sang Pemula” yang berisi sejarah dan kumpulan surat kabar yang pernah didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo. Yuk, mari kita simak artikel perkembangan media massa Indonesia yang terkait dengan Tirto Adhi Soerjo ini.

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dilahirkan di Blora pada tahun 1880 dan wafat pada tahun 17 Agustus 1918. Di usia 23, beliau sudah menerbitkan surat kabar Soenda Berita pada tahun 1903.

Surat kabar tersebut berhenti terbit pada tahun 1905. Namun perjuangan Tirto Adhi Soerjo dalam usahanya menggalang kebangkitan bangsa dengan surat kabar tidak pupus.

Pada tahun 1907 dia pun kembali menerbitkan surat kabar Medan Prijaji yang memakai bahasa melayu atau bahasa Indonesia. Surat kabar ini adalah surat kabar pertama yang memakai bahasa Indonesia.

Para pekerja surat kabar yang terdiri dari jurnalis, pengasuh, percetakan, dan penerbitan adalah orang-orang pribumi atau Indonesia asli. Dan kemudian pada tahun 1908 beliau juga diterbitkan surat kabar Putri Hindia.

Selain berjuang menggunakan media massa surat kabar, Tirto Adhi Soerjo pun membentuk Sarikat Dagang Islam. Beliau adalah orang pertama yang mamakai surat kabar sebagai alat pembentuk pendapat umum dan propaganda.

Kerap kali Tirto Adhi Soerjo menulis kritikan-kritikan yang mengecam pedas gaya pemerintahan kolonial Belanda. Akibat tindakannya itulah beliau ditangkap dan diasingkan dari Pulau Jawa ke Pulau Bacan. Lokasi Pulau Bacan terletak di dekat Halmahera yang masuk dalam provinsi Maluku Utara.

Atas kiprah beliau, pemerintah menetapkannya sebagai Bapak Pers Nasional pada tahun 1973. Dan setelah reformasi, tepatnya pada 3 November 2006, beliau pun mendapat predikat Pahlawan Nasional. Demikianlah artikel perkembangan media massa Indonesia.

Selanjutnya : Artikel tentang Corel Draw
Sebelumnya: Menjaga Jantung Tetap Sehat
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar