Artikel Tentang Penyu: Usaha Pelestarian Penyu di Indonesia

Artikel tentang penyu ini mengkhususkan pada pembahasan mengenai usaha pelestarian penyu di Indonesia. Penyu harus dilestarikan karena keberadaannya baik di Indonesia maupun di dunia kian hari kian langka. Usaha pelestarian penyu ini tidaklah mudah, karena terdapat banyak gangguan yang disebabkan oleh ulah manusia maupun hewan-hewan pemangsa di darat dan di laut.

Dari 7 jenis penyu di dunia, Indonesia beruntung memiliki 6 jenis penyu, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dennochelys coricea), penyu lekang (Kepidchelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu pipih (Natator depressa).

Penyebab Kelangkaan Penyu

Penyu yang merupakan kura-kura laut adalah hewan yang hidup di dua alam (amphibi), yaitu di laut dan di air. Namun hanya sesekali saja mereka ke daratan. Penyu betina yang biasanya ke daratan untuk keperluan bertelur.
Sekali bertelur, seekor penyu betina mampu menghasilkan ratusan telur. Namun dari ratusan telur itu belum tentu ada yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Bahkan diperkirakan hanya satu hingga dua penyu yang dapat bertahan dari seribu telur yang menetas. Hal itu disebabkan oleh banyaknya gangguan yang dapat menghambat proses perkembangbiakan penyu.

Hambatan tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu berasal dari manusia dan hewan lain. Manusia menangkap dan memperdagangkan penyu. Penyu dimanfaatkan antara lain dengan mengambil dagingnya untuk santapan lezat, lemaknya untuk bahan kosmetik, atau diambil karapasnya (cangkangnya) untuk dijadikan berbagai jenis suvenir.

Bahkan masyarakat Bali sudah sejak lama mengkonsumsi daging penyu untuk keperluan upacara adat dan keagamaan, khususnya penyu hijau. Ternyata bukan hanya di Bali, kota-kota lain seperti Manado, Ambon, dan Ujung Pandang (Makassar) juga sering menangkap penyu untuk dikonsumsi.

Sementara itu, gangguan dari hewan lain adalah dari hewan-hewan pemangsa telur penyu. Biasanya biawak yang paling sering memangsa telur-telur penyu. Selain itu, juga terdapat burung, tikus, maupun kepiting. Ikan-ikan besar yang ada di laut biasanya memangsa tukik (bayi penyu) yang baru saja ditetaskan dan kembali ke laut.

Upaya Pelestarian Penyu

Dari fakta yang ada mengenai kondisi kelangkaan penyu tersebut, maka Indonesia bahkan dunia telah membuat peraturan untuk melindungi keberadaan penyu. Dalam appendix I-CITES (Convention on Intemational Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora), semua jenis penyu telah dicantumkan di dalamnya, yang artinya kesemuanya terancam kepunahan dan tidak boleh diperdagangkan secara internasional.

Sementara itu, di Indonesia semua jenis penyu yang ada telah dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, disertai dengan aturan pelaksanaannya berupa PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Peraturan-peraturan ini menyebutkan bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.

Aplikasi dari peraturan-peraturan tersebut adalah dengan cara penangkaran penyu sebagai bentuk konservasi. Penyu dikembangbiakkan (dibudidayakan) oleh manusia agar tidak terancam punah. Proses penangkaran tersebut secara teknis meliputi kegiatan pemindahan telur, penetasan telur (pada habitat semi alami atau inkubasi), pemeliharaan tukik, kemudian pelepasan tukik ke laut bebas.

Demikianlah artikel tentang penyu yang berkaitan dengan usaha pelestariannya di Indonesia. Semoga pengeksploitasian penyu tidak semakin marak terjadi di negeri ini sehingga penyu tidak lagi terancam punah.

 

Loading...
Selanjutnya : Cara Melihat Permintaan Pertemanan di Twitter
Sebelumnya: Bunga Tabungan Bank Sumut
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar