Biografi Sastrawan Angkatan 45 dan 66 Indonesia


Pentingnya mengetahui biografi sastrawan angkatan 45 dan 66 Indonesia bagi kita sebagai generasi bangsa.Sastrawan angkatan ’45 atau biasa disebut dengan angkatan pembebasan, angkatan sesudah perang, angkatan sesudah pujangga perang, angkatan Gelanggang, dan angkatan perang. Ciri-ciri karya angkatan ini lebih bebas, tidak terikat dengan adat istiadat, individualistis, universal, dan futuristik.

Para sastrawan pada angkatan ini memiliki sikap tegas, mereka mengumumkan sikap hidup melalui majalah Siasat dalam rubrik Gelanggang. Mereka adalah Chairil Anwar, Idrus, Rivai Avin, H. B. Jassin, Mochtar Lubis, Usmar Ismail, dan Rosihan Anwar.

Biografi para sastrawan angkatan ‘45 dan ‘66 memiliki karya yang berbeda. Pada angkatan ’66, karya para sastrawan lebih banyak berbau protes terhadap keadaan yang kacau pada masa itu. Hal ini telah dikemukakan oleh H. B. Jassin pada bukunya yang berjudul Angkatan ’66.

Adapun pelopor angkatan ’66 selain beliau adalah Taufik Ismail, W. S. Rendra, Gunawan Muhammad, Supandi Joko Darmono, Satya Graha Hurip, Bokor Huta Suhud, Bambang Sularto, Bastari Asmin, Djamil Suherman, Arif Budiman, Hartojo Andang Jaya, Isma Sawitri, Jussach Ananda, Suwardi Idris, danMansyur Samin.
Salah satu karya fenomal pada angkatan ’66 ini yang sangat digandrungi para  mahasiswa adalah Tirani, karya ini lahir ketika terjadi konflik perpolitikan. Ciri lain dari karya yang lahir pada angkatan ’66 adalah bernada keadilan, bersifat naturalis, realitas,sarat akan penegakan Pancasila, dan lebih berorientasi ke dalam negeri karena para sastrawan melakukan penggalian budaya sendiri.

Sebut saja Taufik Ismail yang telah dibesarkan di Pekalongan, karyanya yang fenomenal pada tahun 1966 adalah sajak Jaket Berlumuran Darah, Harmoni, Jalan Segara. Ada pula W.S Rendra penyair yang terkenal kritis karena karyanya kerap menyoroti berbagai macam sosial, segi pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan.

Sebagai warga Indonesia yang cinta bahasa Indonesia, sudah sepatutnya kita melanjutkan perjuangan para sastrawan. Menikmati tak sekedar membaca karya lama, namun harus ada upaya untuk terus melahirkan karya berkualitas sebagaimana sastrawan angkatan ’45 dan ’66.

Jika Anda membuka kembali ‘kenangan’ biografi sastrawan angkatan 45 dan 66 Indonesia, pasti Anda akan takjub betapa karya mereka begitu dekat dengan para penikmat sastra. Karya mereka berupa puisi, cerpen, dan essai kini jadi rujukan para siswa dan penikmat sastra.

Selanjutnya : Belum Diketahui Siapa Pencipta Lagu Cik Cik Periuk
Sebelumnya: Gejala Sakit di Kepala Seperti Kena Benturan
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar