Burung Enggang


Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Di antara sekian banyak flora dan fauna yang tersebar di seluruh wilayah nusantara adalah burung enggang. Kelompok burung enggang disebut Bucerotidae dan terdiri atas 57 spesies.

Ciri Fisik dan Cara Hidup

Burung ini memiliki ciri khas paruh berbentuk menyerupai tanduk sapi, sedikit melengkung dan tanduknya berwarna cerah. Habitat burung yang disebut juga burung Allo atau Arue (sebutan bagi suku Dayak) ini banyak ditemukan di pulau Kalimantan. Sebanyak sembilan spesies juga ditemukan tinggal di wilayah Afrika bagian Selatan.

Ukuran burung dewasa bisa mencapai 100 cm, cukup besar untuk binatang sekelas burung. Warna bulunya perpaduan antara hitam dan putih, selain itu warna paruhnya merupakan percampuran dari warna kuning.

Cara hidupnya juga tergolong unik dan berbeda dengan jenis burung lainnya. Pada umumnya burung Allo (sebutan lain enggang) ini hidup berpasangan. Ketika masa bertelur akan tiba maka burung jantan akan membuat lubang yang agak tinggi di sebuah pohon sebagai tempat bersarangnya burung betina.

Selama masa persiapan bertelur, menetas hingga anak-anaknya tumbuh menjadi burung muda, burung jantan akan memberi makan burung betina.
Burung yang memakan buah ara ini diguakan sebagai sebagai simbol bagi orang dayak. Kebiasaan uniknya melambangkan kesucian dan kasih sayang terhadap pasangan. Umat Kristiani di sana, dilambangkan sebagai kesucian dan keabadian.

Filosofi Burung Enggang

Tak hanya sekadar dijadikan simbol, kebiasaan burung enggang juga telah dijadikan panutan hidup masyarakat Dayak. Kebiasaan itu diterapkan dalam hubungan keluarga. Dengan demikian, diharapkan masyarakat Dayak saling mengasihi antarpasangan dan mendidik anaknya dengan penuh kasih hingga si anak tumbuh dewasa.

Sayangnya burung ini semakin langka karena habitatnya terus mengalami pengrusakan. Penebangan hutan secara liar di hutan Kalimantan telah membunuh burung yang bertubuh unik ini secara pelan-pelan. Pada saat ini, si Burung Allo sedang berada di ambang kepunahan jika hutan tidak segera dilestarikan.

Nasib burung ini juga tak jauh berbeda dengan nasib suku Dayak, salah satu penduduk asli kepulauan Kalimantan. Suku Dayak semakin terpinggirkan oleh modernisasi dan penduduk pendatang. Burung Allo sekarang seringkali hanya bisa dinikmati sebagai sebuah simbol atau gambar.

Selanjutnya : Grosir Busana Muslim Thamrin City
Sebelumnya: Tips Memilih Barang Bekas Luar Negeri
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar