Beberapa Cara Mengajarkan Sastra Jawa pada Anak-Anak


Sastra Jawa mengandung banyak petuah bijak dan ajaran moral tentang kehidupan manusia yang masih relevan diterapkan pada masa kini.

Usaha pelestarian menjadi sedikit rumit karena bahasa yang digunakan dalam Sastra Jawa sebagian besar merupakan bahasa Jawa Krama Inggil hingga bahasa Jawa Kawi yang sudah tidak digunakan lagi. Berikut ini adalah beberapa cara mengajarkan sastra Jawa, terutama kepada anak-anak.

Dua bentuk utama sastra Jawa adalah prosa (disebut gancaran) dan puisi (tembang). Bentuk-bentuk prosa sastra Jawa antara lain babad, kakawin (kidung pujian), surat, dan berbagai cerita rakyat. Untuk mempelajari bentuk sastra Jawa dalam betuk prosa, paling mudah adalah dengan membacakannya dan mengartikannya.

Bagi anak-anak, cerita pewayangan yang terangkum dalam Kitab Mahabarata maupun Kitab Ramayana dapat disampaikan seperti saat membacakan dongeng. Pencerita dapat memainkan warna dan intonasi suara layaknya seorang dalang wayang kulit, dan mungkin dengan sedikit gerak-gerik.

Bagi sekolah dasar yang mempunyai kelompok teater atau pertunjukan, kisah/riwayat dalam babad maupun cerita-cerita tradisional yang telah ditulis sebagai sastra, dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan.

Bisa dalam bentuk pertunjukan tradisional seperti ketoprak, maupun pertunjukan yang lebih modern. Anak-anak yang terlibat dalam pertunjukan akan memiliki ingatan dan pengetahuan yang kuat tentang cerita yang dipentaskan. Cerita-cerita yang dapat dipentaskan antara lain Garudeya, Sudamala, atau Damarwulan.

Sastra Jawa dalam bentuk puisi sedikit lebih sulit. Puisi-puisi dalam sastra Jawa hampir selalu disusun dalam bentuk nyanyian atau kidung tradisional.

Nyanyian dan kidung tradisional ini biasa disebut sebagai tembang macapat. Penyampaian tembang macapat akan lebih afdhal jika disenadungkan langsung.

Namun jika tidak bisa bersenandung macapat, anak-anak dapat diajarkan dengan mendengarkan rekaman tembang macapat yang ada pada kaset, cakram padat, atau dapat diunduh melalui internet.

Di sisi lain, cara mengajarkan sastra Jawa, dan termasuk yang paling rumit, adalah dengan mengajarkan anak-anak menulis dan membaca tulisan Jawa.Huruf dan tulisan merupakan bagian dari sastra, maka dari itu mempelajari tulisan dan huruf merupakan bagian dari mempelajari sastra.

Huruf Jawa merupakan huruf dengan bentuk unik dan memiliki aksen dan lambang masing-masing. Huruf Jawa Baru (hanacaraka) masih relatif mudah dipelajari karena penggunaan dan pelafalan tidak jauh berbeda dengan bahasa Jawa Baru yang saat ini masih digunakan oleh sebagian besar orang Jawa.

Selanjutnya : Membangun Kerjasama Jualan Buku
Sebelumnya: Memasukkan Rumus pada Excell
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar