Contoh Pelanggaran Adat Istiadat Dayak


Suku Dayak adalah salah satu suku Di Indonesia yang memberlakukan hukum adat. Artikel ini akan membahas mengenai contoh pelanggaran adat istiadat Dayak beserta konsekuensi pelanggaran adat istiadat Dayak tersebut.

Adat Istiadat Dayak

Suku Dayak Benuaq saat ini tersebar di pedalaman Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Kutai Barat dan Tenggarong. Suku Dayak Benuaq melahirkan sastrawan terkenal yaitu Korrie Layun Rampan.

Suku Dayak Benuaq meyakini bahwa alam semesta diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa tunggal yakni Letalla yang mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para pemuka adat yang disebut Seniang, Mulakng, Nyaluq. Nyaluq inilah yang menghukum pelanggaran adat istiadat Dayak Benuaq.

Orang Dayak Benuaq percaya sistem adat budaya Dayak Benuaq berasal langsung dari Lettala dan telah ada sebelum negara Indonesia lahir, karena itu hukum negara tidak bisa serta menghilangkan hukum adat. Hukuman pelanggaran adat istiadat Dayak Benuaq di antaranya mendapat kutukan dari Nyaluq Seniang berupa kesusahan mendapatkan rezeki, mendapatkan malapetaka/bencana, dan kematian baik perlahan maupun mendadak.

Masyarakat Dayak Benuaq meyakini bahwa pelanggaran adat telah terjadi jika seseorang mengalami hal yang tidak baik dalam kehidupan. Karena itu warga Dayak Benuaq harus menjalankan adat istiadat dengan sebaik-baiknya.

Salah satu kasus pelanggaran hukum adat istiadat Dayak yang cukup besar di Indonesia adalah protes Dewan Adat Dayak Kalimantan yang menyatakan agar Profesor Dr. Thamrin Tomagola dihukum adat karena pernyataannya yang melecehkan saat menjadi saksi ahli dalam sidang video porno Ariel. Ia menyatakan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bersenggama tanpa diikat perkawinan adalah biasa pada masyarakat adat Dayak.

Protes ini kemudian ditanggapi Thamrin Tomagola dengan permintaan maaf kepada masyarakat Dayak di Indonesia setelah ia menjalani pengadilan adat Dayak se-Kalimantan terhadap dirinya sebagai pelanggar adat Dayak. Hasil persidangan Adat Dayak yang ditentukan oleh Majelis Adat Dayak mewajibkan Thamrin Tomagola melaksanakan hukum adat dengan membayar denda untuk upacara adat berupa Gong Garantung dan biaya pelaksanaan sidang adat Dayak yang nilainya sekitar Rp77.777.77 dan memusnahkan hasil risetnya.

Saat ini, sebagian besar kota/kabupaten di Kalimantan telah terkena imbas modernisasi dan pemberlakuan hukum positif. Namun hukum adat pun masih berlaku. Karena itu contoh pelanggaran adat istiadat Dayak diharapkan dapat membuat Anda lebih waspada dan terhindar dari pelanggaran adat bila suatu hari Anda bekerja atau berwisata ke wilayah Suku Dayak.

Selanjutnya : Artikel tentang Macan Tutul Jawa
Sebelumnya: Gedung Art Deco di Bandung Peninggalan Sejarah Belanda
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar