Contoh Pencatatan Transaksi Kegiatan Simpan Pinjam

Saat ini, jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana contoh pencatatan transaksi kegiatan simpan pinjam sangat mudah ditemukan. Dulu, sebelum eksistensi internet merambah ke Indonesia, menemukan contoh penyusunan transaksi atau laporan simpan pinjam memang sangat sulit sekali. Kecuali jika Anda termasuk mahasiswa dari jurusan akuntansi yang memang sehari-hari tekun membuat segala bentuk laporan keuangan.

Google adalah cara efektif untuk mendapatkan contoh-contoh penyusunan transaksi kegiatan simpan pinjam. Anda hanya perlu koneksi internet, lalu mengetik kalimat “contoh laporan transaksi kegiatan simpan pinjam” pada halaman google, maka sistem otomatis mengeluarkan segala informasi sesuai apa yang Anda butuhkan.

Mengenal Sistem Pembukuan

Pencatatan transaksi dari kegiatan simpan pinjam dapat digolongkan sebagai kegiatan pembukuan. Dalam ilmu akuntansi, kegiatan ini tidaklah asing. Pencatatan bisa dibuat dalam model sesederhana mungkin, hingga yang paling rumit. Sesuai seberapa panjang transaksi kegiatan simpan pinjam itu berjalan, serta selengkap apa data keuangan yang dibutuhkan oleh suatu instansi terhadap hasil kegiatan tersebut.

Salah satu model sistem pencatatan transaksi atau pembukuan adalah sistem pembukuan berpasangan (double entry system). Model pencatatan transaksi seperti ini merupakan model yang akan menunjukkan keseimbangan hasil antara debet dan kredit. Keseimbangan debet dan kredit ini menjadi aturan yang paling baku dan utama ketika menyusun model pecatatan transaksi berpasangan.

Selain itu, ada pula hal-hal lain yang harus ada dalam sebuah pencatatan transaksi, terutama transaksi simpan pinjam. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Posisi keuangan atau neraca, sisa hasil usaha, serta arus kas yang disusun secara komprehensif.
  2. Jumlah sisa hasil usaha (SHU). Jumlah ini baru terlihat setelah laporan laba dan rugi selsai disusun. Dana SHU sendiri bisa berasal dari anggota koperasi maupaun yang bukan anggota koperasi. SHU yang berasal dari anggota koperasi, berupa:
  • Dana cadangan koperasi
  • Dana anggota koperasi
  • Dana pegawai/karyawan dalam lingkup koperasi
  • Dana pengurus koperasi
  • Dana dari kegiatan transaksi pembangunan daerah kerja
  • Dana dari kegiatan sosial

SHU yang berasal bukan dari anggota koperasi, berupa:

  • Dana cadangan koperasi
  • Dana pendidikan koperasi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992, seluruh SHU yang tersisa wajib didistribusikan merata sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Untuk SHU yang tidak bisa dibagikan dapat dijadikan sebagai modal untuk menutupi kerugian yang ditanggung oleh koperasi.

3. Jumlah modal keseluruhan. Dalam pencatatan transaksi simpan pinjam, harus jelas darimana sumber-sumber modal berasal. Umumnya, modal yang juga harus disusun pembukuannya yaitu:

  • Modal yang berasal dari simpan-simpanan.
  • Modal yang berasal dari pinjam-pinjaman.
  • Modal yang berasal dari cadangan atau sisa hasil usaha.

Demikian cara mudah dan hal-hal umum dalam contoh pencatatan transaksi kegiatan simpan pinjam. Semoga bermanfaat, terutama bagi Anda yang membutuhkannya.

Selanjutnya : Menentukan Contoh Gambar untuk Merek Dagang Pakaian
Sebelumnya: Contoh Berita yang Terjadi Kekerasan Rumah Tangga yang Menyebabkan Gangguan Jiwa
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

//adsnya disini