Definisi Constitutive Emosi Pada Putusan Terhadap Hak Asuh Anak

Sebenarnya merupakan hal yang sulit untuk menerangkan definisi constitutive emosi itu. Namun jika dihubungkan dengan suatu produk hukum, misalnya yang berkaitan dengan hak asuh anakĀ  dari orangtua yang bercerai, mungkin hal ini bisa sedikit membantu.

Jenis-jenis Putusan Di Pengadilan

Setiap hakim yang mendapatkan perkara,maka dia harus memutuskan perkara yang dibebankan kepadanya terebut secara benar dan baik. Putusan ini dibacakan atau diucapkan disuatu sidang yang dilakukan secara terbuka.

Putusan ini sendiri dibuat jika sudah dilakukan pemeriksaan dari kedua belah pihak yang sedang bersengketa atau berperkara. Pemeriksaan dianggap selesai jika mereka sudah merasa tidak ada hal-hal yang perlu disampaikan di sidang atau hakim yang melakukan pemeriksaan perkara.

Putusan sendiri merupakan suatu pernyataan dari hakim yang menyandang status sebagai pejabat negara dan mendapat wewenang guna memutuskan sebuah perkara dan sengketa diantara pihak-pihak yang saling bersengketa tersebut. Dilihat dari sifatnya, putusan terdiri dari tiga jenis. Pertama yaitu daclaratoir. Artinya pengadilan menyataka sebuah keputusan dan dinyatakan sudah sah sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kedua adalah putusan constitutive, yaitu suatu putusan yang sifatnya hanya menghentikan atau memunculkan suatu perkara hukum yang baru. Sedangkan yang ketiga adalah putusan condemnatoir, yaitu putusan yang memberikan hukuman yang dianggap sebagai pihak yang salah atau kalan agar memenuhi sebuah prestasi yang sudah ditetapkan hakim.

Putusan Tentang Hak Asuh Anak

Dalam definisi constitutive emosi, yang sesuai dengan ketiga jenis putusan tersebut, maka putusan yang berkaitan dengan hak asuh anak adalah termasuk putusan yang sifatnya constitutive. Dalam hal ini, antara kedua orangtua yaitu ayah dan ibu bisa berposisi sebagai penggugat, sedang yang digugat berposisi sebagai tergugat.

Dipandang dari sisi psikologi, penentuan hak asuh ini dibagi menjadi lima golongan atau kriteria. Pertama yaitu karena keinginan dari orangtua. Kedua keinginan dari anak. Lalu ketika hubungan antara si anak, kedua orangtuanya dan saudara kandung serta orang lain yang memiliki pengaruh terhadap semua kebutuhan anak.

Sedangkan yang ketiga adalah penyesuaian diri anak ketika di rumah dan sekolah maupun dalam lingkungan pergaulannya. Dan yang kelima adalah berhubungan dengan urusan kesehatan orang-orang yang ikut terlibat dalam urusan anak.

Selama ini yang paling sering terjadi adalah hakim pengadilan di Indonesia menerapkan undang-undang yang menyatakan anak di bawah usia 12 tahun harus diasuh ibunya. Padahal peraturan ini belum tentu bisa menjamin kehidupan anak menjadi lebih baik.

Menurut ilmu psikologi, putusan yang terbaik adalah masing-masing orangtua memilik hak asuh yang sama, baik secara finansial maupun pelaksanaannya. Kecuali jika salah satu dari orangtua tersebut memang sedang mengalami masalah lain misalnya sakit, menjadi pencandu narkoba dan sebagainya yang akibatnya bisa memberi pengaruh buruk terhadap masa depan anak.

Semoga kasus atau peristiwa hukum seperti ini bisa memudahkan kita mencari arti atau definisi constitutive emosi itu apa. Oleh karena jika diterangkan dengan kata-kata secara langsung, memang agak sulit dijabarkan.

Selanjutnya : Berbagai Dasar Hukum Tentang Kedaulatan Negara
Sebelumnya: Apa Manfaat Hidup Hemat?
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

Loading...