Definisi Suami Baik Menurut Islam


Islam merupakan agama yang paling lengkap dalam memberikan tuntunan kepada umat manusia dalam berbagai macam hal. Salah satu yang diajarkan adalah  bagaimana menjadi suami baik menurut Islam.

Hal ini penting untuk diketahui oleh mereka yang sudah berumah tangga dan ingin membentuk keluarga yang harmonis serta bahagia. Sebab, dalam kehidupan rumah tangga tak jarang ada permasalahan yang sering menjadi sumber perselisihan antara suami istri. Dan sebagaimana yang sering terjadi, suami seringkali menjadi pihak yang dominan dalam terciptanya proses kemarahan.

Padahal, kemarahan bukanlah sebuah hal yang baik dalam menyelesaikan permasalahan. Apalagi sebuah kemarahan merupakan jalan masuk bagi setan untuk menggoda manusia. Itulah mengapa, manusia diajarkan untuk bisa menahan amarahnya. Demikian pula, seorang suami baik menurut Islam, adalah mereka yng bisa menahan amarah.

Mengelola Marah

Marah, merupakan salah satu sifat manusia yang dalam agama Islam pun tidak dinafikan keberadaannya. Namun, Islam pun mengajarkan tata k    rama kepada umat tentang bagaimana mengelola kemarahan tersebut.

Salah satu yang harus dilakukan seseorang ketika emosinya meningkat adalah dengan mengucapkan istigfar berulang kali. Dengan istigfar, maka seseorang yang sedang marah akan berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan juga mohon diampuni kesalahannya pada saat marah.

Apabila dengan istigfar emosi masih tetap tinggi, maka orang yang sedang marah dianjurkan untuk duduk. Apabila dalam kondisi duduk, emosi belum terkendali, dianjurkan untuk berbaring. Dan jika dengan berbaring emosi belum juga hilang, maka diperintahkan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat. Dengan salat yang khusu’ dan tenang, niscaya emosi yang semula menumpuk akan segera hilang bersama dengan ketenangan dalam salat.

Suami Yang Baik

Selain harus mampu mengendalikan kemarahan, seorang suami yang baik harus pula memiliki kebijaksanaan dalam menyelesaikan perbedaan pendapat. Cara ini bisa dilakukan dengan mengajak diskusi istri atau anak untuk mempersatukan pandangan atas perbedaan yang ada tersebut.

Yang perlu diingat, seorang suami tidak boleh memaksakan pendapat dan juga merasa bahwa pendapatnya yang paling tepat. Dalam menghadapi perbedaan, seorang suami yang baik harus mampu meminta pendapat semua anggota keluarga dan juga mengekplorasi semua permasalahan yang ada.

Demikian pula dalam pengambilan keputusan. Suami yang baik harus bisa mengambil keputusan dengan mendasar kebaikan bersama. Bukan sebaliknya, mengambil keputusan hanya demi kepentingannya seorang diri. Dengan cara demikian, rumah tangga sakinah mawadah wa’rahma bisa diwujudkan.

Selanjutnya : Cara Menjadi Penulis Artikel yang Baik
Sebelumnya: Obat Gatal Alergi yang Tersedia di Apotek
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar