Pesan Moral dari Dongeng Timun Mas dan Buto Ijo

Kisah atau dongeng Timun Mas dan Buto Ijo merupakan cerita yang sangat terkenal dan berasal dari Jawa Tengah. Legenda ini sangat disukai banyak orang terutama anak-anak. Namun, apabila dilihat dari sudut pandang orang dewasa terutama yang bisa memandang dari sisi dan sudut yang berbeda, dongeng ini merupakan semacam metafora yang penuh dengan sindiran tajam.

Sekilas Cerita Timun Mas dan Buto Ijo

Cerita Timun Mas dan Buto ini berawal dari kehidupan seorang wanita yang ingin mendapatkan anak, namun tidak pernah berhasil mewujudkan angan-angannya tersebut. Suatu saat dia pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Di tengah hutan dia bertemu dengan sesosok makhluk berwujud raksasa serta menamakan dirinya sebagai Buto Ijo. Raksasa ini berjanji membantu perempuan itu demi mendapatkan seorang anak. Namun, sebelumnya wanita tersebut harus mau berjanji, setelah dewasa nanti anak tersebut harus dikembalikan lagi kepadanya.

Tanpa pikir panjang si wanita bersedia mengucapkan janji tersebut. Setelah itu Buto Ijo memberi sebuah timun berukuran besar dan menyuruh wanita yang bernama Mbok Srini membawa timun itu pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah sesuai dengan pentunjuk yang diberikan Buto Ijo, timun tersebut dibelah menjadi dua. Ternyata di dalamnya ada seorang bayi mungil yang kemudian diberi nama Timun Mas. Selanjutnya Timun Mas dipelihara oleh Mbok Srini hingga dewasa.

Dan sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Buto Ijo mendatangi Mbok Srini kemudian meminta agar Timun Mas dikembalikan kepadanya. Tapi Mbok Srini tidak mau melakukannya. Dia justru menyuruh Timun Mas agar melarikan diri dan memberi beberapa bekal diantaranya biji timun.

Selama Timun Mas melarikan diri Buto Ijo berusaha mengejarnya. Tapi Timun Mas selalu bisa menghindarkan diri dari kejaran tersebut. Dia membuat rintangan dari bekal yang diberikan oleh ibunya. Bahkan dalam sebuah kesempatan dia berhasil membunuh Buto Ijo dengan biji timun.

Makna Cerita Timun Mas dan Buto Ijo

Dari dongeng Timun Mas dan Buto Ijo tersebut, setidaknya ada dua makna terpendam dengan muatan yang sangat dalam sekaligus berhubungan dengan moral. Pertama adalah melihat sosok Mbok Srini. Bisa dikatakan dia telah ingkar pada janjinya sendiri kepada Buto Ijo. Padahal yang namanya janji itu harus ditepati.

Meski sering disebutkan jika Mbok Srini terlalu menyayangi anaknya Timun Mas, namun anak tersebut bukan merupakan darah dagingnya sendiri. Jadi ketika ada orang yang lebih berhak dan memintanya, maka harus diberikan dengan sukarela.

Kedua dilihat dari perbuatan Buto Ijo. Dia memang memberi pertolongan pada Mbok Srini, tapi tidak dibarengi dengan niat yang tulus. Pertolongan tersebut diberikan atas dasar sebuah pamrih. Dia tidak mau memelihara anaknya, namun setelah dewasa anak yang dibesarkan dengan susah payah oleh orang lain itu langsung dimintanya kembali.

Itulah pesan moral yang tersirat dalam dongeng Timun Mas dan Buto Ijo yang sebenarnya penuh dengan ajaran tingkat tinggi. Tapi sayangnya tidak banyak yang menyadari tentang hal itu. Saat ini dongeng tersebut hanya sekedar menjadi cerita hiburan saja, terutama anak-anak.

Loading...
Selanjutnya : Kita Begitu Kecil dalam Alam Semesta dan Benda Langit yang Begitu Besar
Sebelumnya: Batik Jawa Tengah yang Kaya dengan Corak dan Motif
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar