Rumah Adat dan Makna Filosofi Ukiran Rumah Betawi

Tidak berbeda jauh dengan suku lain di Indonesia, suku Betawi yang merupakan penduduk asli Jakarta juga punya rumah adat sendiri. Rumah tersebut juga sering diberi hiasan atau ornament berupa ukiran kayu yang dipasang pada beberapa bagian bangunan. Selain untuk memperindah tampilan rumah, ada makna filosofi ukiran rumah Betawi tersebut.

Bentuk Rumah Adat Betawi

Apabila dilihat dari bentuk bangunan dan struktur pada atapnya, rumah adat Betawi terdiri dari empat jenis. Pertama adalah Rumah Gudang yang bentuknya memanjang dari arah depan hingga belakang. Atapnya seperti bentuk perisai atau pelana kuda dan pada bagian depannya dilengkapi dengan atap lain yang ukurannya kecil.

Kedua Rumah Bapang yang selalu punya serambi besar di bagian mukanya. Serambi ini dipakai untuk menerima tamu. Bentuk serambi tersebut berupa ruang setengah terbuka dan diberi batas atau pagar. Selain itu lantainya berada di atas permukaan tanah dan dilengkapi dengan tangga.

Ketiga adalah Rumah Kebaya yang jika dilihat dari arah samping bentuk atapnya seperti lipatan pada kain atau baju kebaya. Hal ini dikarenakan atap tersebut dibuat menjadi beberapa bagian dan ditata sedemikian rupa hingga punya tampilan yang sangat khas dan indah. Rumah ini juga punya serambi yang sangat luas.

Keempat yaitu Rumah Limasan atau Joglo yang bentuknya bujur sangkar. Rumah jenis Limasan ini memang mendapat pengaruh dari desain rumah adat Jawa. Perbedaannya terletak pada tiang atau soko gurunya.

Untuk rumah adat Betawi, hiasan pada tiangnya berupa ukiran bunga melati yang tidak hanya berfungsi untuk membuat tiang tersebut terlihat indah. Ada makna filosofi ukiran rumah Betawi pada bunga melati tersebut, yaitu pemilik rumah punya hati atau perasaan yang harum seperti aroma kembang melati yang sedang mekar.

Makna Filosofi Lainnya

Selain tiang utama, elemen lain dari rumah Betawi yang diberi hiasan ukiran adalah pintu depan atau gerbang. Pintu gerbang tersebut diberi atap, kemudian dikasih lagi ornamen yang namanya lisplang gigi balang yang terbuat dari kayu.

Bagian tersebut diberi ukiran dengan bentuk segitita serta bulatan. Makna filosofi dari ukiran ini adalah kesabaran, keuletan, kejujuran dan keberanian. Itulah ciri atau prinsip utama yang harus selalu dipegang teguh oleh masyarakat Betawi asli. Hiasan ukiran tersebut juga dipasang pada atap lain yang ada di bagian depan rumah.

Hiasan ukiran berbentuk bunga matahari yang dipasang di atas lampu gantung juga mempunyai arti tersendiri. Makna filosofi ukiran rumah Betawi pada bagian tersebut yaitu sebagai penerang. Penerang ini bukan hanya untuk menerangi ruang bangunan saja, tapi juga untuk menerangi hati penghuni rumah tersebut.

Selanjutnya : Filsafat Kosmologi dalam Islam
Sebelumnya: Film Horor Terseram
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

Loading...