Geguritan tentang Kerinduan Bahasa Jawa yang Indah


Geguritan adalah jenis puisi berbentuk tembang dengan aturan intonasi lagu tertentu. Dalam perkembangannya, geguritan telah berubah dan diartikan menjadi puisi bebas berbahasa Jawa. Banyak sastrawan Jawa membuat geguritan tentang kerinduan bahasa Jawa yang indah, karena prihatin dengan perkembangan geguritan yang bebas dan dinilai kurang bermakna.

Geguritan Bahasa Jawa

Geguritan dalam bentuk aslinya secara tradisional, sering dinamakan dengan Macapat. Pengertian macapat secara singkat adalah puisi indah berbahasa Jawa dengan aturan lagu tertentu, yang jumlahnya ada 12 tembang. Aturan dalam membuat macapat terbilang sangat ketat, misalnya harus memiliki jumlah baris dan akhiran huruf vokal tertentu.

Misalnya macapat harus mempunyai “guru wilangan” atau terdiri dari suku kata tertentu, harus memiliki “guru lagu” atau mempunyai akhiran vocal atau konsonan yang beraturan, memiliki “gatra” atau terdiri dari jumlah bait tertentu. Dalam sastra Jawa, semua ketentuan ini dimudahkan dengan adanya sebuah tabel yang disebut dengan “tabel macapat”.

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Jawa, tembang macapat semakin banyak dipengaruhi oleh budaya modern, sehingga ketentuan-ketentuan tentang tembang macapat banyak yang dilanggar. Dan yang semakin berkembang justru geguritan atau puisi Jawa bebas. Padahal dalam kacamata sastra Jawa klasik, geguritan macapat mengandung makna yang sangat dalam, yaitu tentang perjalanan hidup manusia dari lahir sampai meninggal.

Gambaran macapat sebagai perjalanan hidup manusia, tergambarkan dalam 3 fase hidup manusia. Pertama adalah fase kelahiran hingga remaja, terangkum dalam tembang Mijil, Maskumambang dan Kinanti.

Fase kehidupan remaja, digambarkan dalam tembang Sinom, Dandang Gula, Asmaradana, Durmo dan Gambuh. Fase terakhir adalah tentang kehidupan orang tua sampai kematian, tercakup dalam tembang Pangkur, Megatruh, Pucung dan Wirangrong. Di antara dua belas tembang macapat, tembang Sinom, Dandang Gula, Asmaradana, Durmo dan Gambuh adalah bentuk geguritan yang paling banyak diminati, namun sekaligus juga yang paling banyak keluar dari pakem sastra Jawa klasik.

Gambuh maknanya adalah acuh tak acuh, dan salah satu geguritan yang banyak diminati di jaman modern sekarang ini, sebagai simbol ekspresi kebebasan. Sementara kebalikannya, geguritan tentang kerinduan bahasa Jawa yang indah dan santun, tergambarkan dalam tembang Asmaradana yang maknanya adalah bara api cinta yang penuh gelora dan keindahan.

Selanjutnya : Penemuan Ular Tedung di Jawa Barat
Sebelumnya: Sejarah Perkembangan Industri
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar