Hadist tentang Kewajiban Menuntut Ilmu


Hadist tentang kewajiban menuntut ilmu. Ada berbagai kata mutiara yang sering kita salah artikan sebagai hadistt karena intensitasnya diucapkan umat, tak terkecuali dengan hadistt tentang kewajiban menuntut ilmu. Kita tentu sangat familiar dengan ucapan ‘Tuntutlah Ilmu walaupun sampai ke negeri China.’ Saking familiarnya, sampai-sampai tidak sadar bahwa ini bukanlah hadist, melainkan kata mutiara sufisme yang mengalami pergeseran makna.

Hadist tentang Ilmu

Banyak yang meyakini, ini adalah hadits dan menghubungkannya dengan kenyataan bahwa China dianggap sebagai pusat pengetahuan pada masa tersebut. Jadi, kalimat yang dianggap hadist ini dimaksudkan agar seseorang mau mengalahkan egonya untuk menuntut ilmu ke mana pun, bahkan meski lokasi pengetahuan tersebut sejauh China.

Ada juga yang menyebutkan, kalimat di atas dapat dimaknai lain. Orang China terkenal dengan penghalalannya pada daging babi. Jadi, belajar pada seseorang yang ‘kafir’, tidak masalah asalkan pengetahuan yang didapatkan, tetaplah pengetahuan yang benar.

Jika kita melacak lebih rinci, kalimat ini dianggap sebagai hadist, karena memiliki jalur riwayat kepada Rasulullah. Namun, dari tiga jalur sanad, ketiga-tiganya memiliki perawi yang membuat kadar kebenaran hadits ini sangat lemah.

Semisal, pada sanad pertama, salah satu perawi ‘hadist’ ini adalah Abu Atikah Tarif bin Sulaiman; yang dikenal sebagai pemalsu hadist. Pada sanad kedua, ada nama Yaqub bin Ibrahim yang juga seorang pembohong. Pada sanad ketiga, ada nama Ahmad bin Abdullah Aljuwaibiri yang juga merupakan seorang pendusta. Dengan bukti-bukti ini saja tidak terbukti bahwa kalimat ini adalah hadist.

Jadi, sebenarnya dari mana kalimat itu berasal? Jawabannya, dari kalimat sufistik. Kalimat ini merupakan kata sandi bagi para sufi untuk menggambarkan konsentrasi. Dikisahkan suatu malam, Simurgh (hewan yang bagaikan Garuda, perlambang kekuatan dan kehebatan Allah) menampakkan dirinya. Lalu bulunya menjatuhkan bulu ajaib di China.

Semua orang mencari bulu ini untuk merekam keberadaan Simurgh. Kisah ini menggambarkan bahwa Allah mungkin saja memanifestasikan diri-Nya kepada seseorang yang berkonsentrasi.

Mengapa demikian? Karena China dalam bahasa Arab disebut SHYN (Shad, Ya, dan Nun). Ia memiliki nilai yang sama dengan QaNN yang bermakna pengamatan. Dengan demikian, kalimat ini bukanlah hadist tentang kewajiban menuntut ilmu, melainkan ucapan sufi yang bermakna, ‘Carilah ilmu dengan memusatkan pikiran atau berkonsentrasi’.

Selanjutnya : Hadits tentang Ilmu Pengetahuan – Bukti Islam Menjunjung Akal
Sebelumnya: Gosip Terbaru di Insert Investigasi
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar