Isi Pidato Presiden Surabaya Tentang Narkoba yang Terasa Hampa

Isi pidato Presiden Surabaya tentang narkoba beberapa tahun lalu terasa hampa jika melihat kenyataan saat ini, khususnya di ranah hukum pemberantasan narkoba. Masih jelas tiga tahun yang lalu, tepatnya 26 juni 2011, Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) berpidato di depan khayalak ramai saat peringatan Hari Anti Narkoba Sedunia. Kala itu, presiden menjelaskan berbagai permasalahan tentang narkoba di Indonesia dengan semangat pemberantasan. Namun jika melihat kondisi saat ini, pidato tersebut seakan angin lalu saja.

Tindak Pidana Narkoba

Di tahun 2013 lalu, Presiden SBY juga kembali menegaskan tekadnya untuk memberantas narkoba kala memberikan pidato kenegaraan di gedung MPR RI. Dalam pidato tersebut, Pak SBY menomertigakan bahaya narkoba di bawah bahaya korupsi dan terorisme. Padahal dari data BNN, kerugian negara akibat narkoba mencapai 57 triliun rupiah. Angka ini diklaim melebihi angka yang dikorupsi di tahun 2013. Dari segi korban jiwa, korban bahaya narkoba jauh lebih banyak daripada jumlah meninggal korban tindak kejahatan.

Narkoba harus diberantas secara serius. Sebab, peredaran narkoba sudah cukup luas dan tak mudah diberantas secara langsung. Lembaga pemasyarakatan atau Lapas malah menjadi sarang para penjahat narkoba menjalankan bisnisnya. Para pengedar besar narkoba masih mampu mengendalikan bisnis haram ini di balik jeruji besi. Lalu di mana hukum itu?

Sungguh ironis, di tengah upaya masyarakat memberantas narkoba, pemerintah dalam hal ini presiden, seakan lepas tangan. Seharusnya, Presiden SBY menyejajarkan tindak pidana narkoba dengan tindak kejahatan korupsi ataupun terorisme. Jika bahaya narkoba tidak diantisipasi secara serius dan benar, bisa jadi generasi depan bangsa ini akan terancam.

Di tahun 2014 ini, kembali isi pidato Presiden Surabaya tentang narkoba dipertanyakan. Presiden dirasa tidak mendukung upaya BNN atau Badan Nasional Narkotika dalam memberantas narkoba di Indonesia. Tindakan presiden seakan tidak sesuai dengan isi pidatonya. Tindakan yang cukup menyita banyak perhatian ialah mengenai diberikannya pembebasan bersyarat sang ratu narkoba dari Australia, Schapelle Leigh Corby.

Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Presiden SBY sempat menginstruksikan pada BNN untuk berada di garis depan pencegahan dan pemberantasan narkoba. Tindakan pembebasan bersyarat yang dilakukan pemerintah, menunjukkan inkonsistensi pemerintah terhadap pemberantasan narkoba. Terlihat upaya yang dilakukan dalam pemberantasan narkoba seakan bertepuk sebelah tangan. Pembebasan gembong narkoba ini juga menurunkan citra Indonesia di mata dunia dalam upaya membuktikan hukum yang seadil–adilnya. Semoga saja kekecewaan atas isi pidato Presiden Surabaya tentang narkoba tak berlanjut di tahun yang akan datang.

Selanjutnya : Filosof-Filosof Socrates dan yang Lahir Setelahnya
Sebelumnya: Contoh-contoh Isyarat Kata sedang Sedih
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

loading