Jenderal S. Parman dan Peristiwa Kudeta 1965


Jenderal S. Parman adalah salah satu dari pahlawan revolusi yang menjadi korban kudeta Soeharto dalam memperebutkan pemerintahan Soekarno. Peristiwa pembunuhan sang Jenderal ini terjadi pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 atau yang biasa dikenal dengan Gestok atau Gerakan Satu Oktober.

Presiden Soeharto menyebutnya menjadi Gerakan 30 September yang dapat disingkat menjadi G30S, atau Gerakan September Tiga Puluh yang disingkat menjadi Gestapu. Nama Gestapu dapat memberikan efek seram karena mirip bunyinya dengan Gestapo.

Gestapo sendiri adalah nama polisi rahasia Nazi dahulu. Karena Nazi menganut aliran komunis, maka mudah mengaitkan Gestapu ini dengan komunis, sehingga dapat dengan gampangnya mengkambinghitamkan PKI. PKI adalah Partai Komunis Indonesia, yang di masa penggulingan Soekarno tersebut pengaruhnya sangat luas dan sedang berjaya.

Memasuki orde baru, kejayaan PKI berakhir. Semua orang yang terlibat PKI atau dituduh terlibat PKI akan menjadi korban pembantaian keji di rezim Soeharto. Bahkan orang yang tidak tahu menahu mengenai PKI dapat menerima hukuman jika ada yang tidak suka dan menuduhnya sebagai PKI.

Kematian S. Parman ini memang menjadi tiket bagi Soeharto untuk memperbolehkan membantai siapa saja yang dianggap membunuh para Jenderal pahlawan revolusi dan PKI yang menjadi kambing hitamnya.

Padahal para pelaku penculikan ketujuh Jenderal adalah Resimen Tjakrabirawa yang merupakan militer dan atas perintah serta sepengetahuan dari Soeharto.

Tentu saja dengan tipu daya bahwa penculikan tersebut merupakan tindakan pengamanan pada Presiden Soekarno karena para Jenderal akan melakukan kudeta mengambil alih kekuasaan. Simpang siur peristiwa ini terus berlanjut, apalagi ditambah propaganda dari film G30S PKI yang menggambarkan kekejian PKI.

Namun, kenyataannya jutaan manusia yang tertuduh PKI dibantai oleh rezim orde baru di masa pemerintahan Soeharto tidak diungkapkan. Segelintir informasi di sana sini hanya dapat dibaca dari buku-buku memoar atau pledoi dari korban fitnah.

Beberapa buku tersebut antara lain adalah Oei Tjoe Tat, Omar Dani, Kesaksian Soebandrio, Menembus Tirai Asap, Dalih Pembunuhan Masal, dan Pledoi Kol. A. Latief.

Ketujuh korban yang menjadi tumbal dari peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto ini adalah Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal D.I. Panjaitan, Letnan Jenderal M.T. Haryono, Letnan Jenderal S. Parman, Letnan Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten P. Tendean. Semoga sedikit uraian tersebut bermanfaat.

Selanjutnya : Cara Bikin Usaha Showroom Motor Bekas
Sebelumnya: Macam Macam Tari Tradisional yang Ada di Negara Kamboja
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar