Kahlil Gibran tentang Perjumpaan


Pandangan Kahlil Gibran tentang perjumpaan yang tertuang pada karyanya memperkaya kita dengan kesadaran pada satu keniscayaan bahwa perjumpaan berpasangan dengan perpisahan. Tentang Kahlil Gibran, siapa yang tidak kenal beliau, sastrawan yang telah menginspirasi banyak orang lewat bait-bait karya yang ditulisnya.

Dalam hal ini, Kahlil Gibran berhasil merefleksi apa yang muncul di kehidupan manusia dan membagikan hasil refleksinya melalui kata-kata yang indah. Puisi-puisinya yang lahir dari proses perenungan mendalam selalu menyentuh hati dan memberi pencerahan. Salah satunya yaitu tentang perjumpaan yang justru muncul lewat salah satu puisinya yang berjudul ‘Perpisahan’.

Puisi Perpisahan Kahlil Gibran

Sebelum kita membahas pandangan Kahlil Gibran tentang perjumpaan, alangkah baiknya jika kita melihat apa yang beliau tulis tentang perpisahan karena di dalam puisi tentang perpisahan itu Kahlil Gibran menyinggung tentang perjumpaan.

Jika kita telaah, puisi di atas beberapa kali menyebutkan kata-kata yang berhubungan dengan perjumpaan. Kata berjumpa yang pertama ditemukan di baris ketiga yang disandingkan dengan kata berpisah di baris sebelumnya. Kemudian di baris keempat belas kata berjumpa ditemukan lagi bersanding dengan kata perpisahan di baris sebelumnya.

Meski disampaikan dengan cara lain, perjumpaan dan perpisahan juga tertuang di baris keempat dan kelima . Selain itu, Kahlil Gibran juga merepresentasikan perjumpaan kembali dalam kalimat “Dan apabila tangan kita bersentuhan di lain mimpi.”

Apa Kata Kahlil Gibran Tentang Perjumpaan?

Penghayatan terhadap salah satu puisi Kahlil Gibran di atas memunculkan beberapa pemaknaan terhadap kata perjumpaan. Yang pertama, perjumpaan dan perpisahan seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ketika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Sebaliknya, perpisahan terjadi untuk kemudian ada pertemuan selanjutanya entah dengan yang sama entah dengan pertemuan baru. Terkadang manusia begitu takut dengan perpisahan dan begitu bahagia dengan pertemuan. Padahal, dua keniscayaan itu adalah bagian dari kehidupan.

Kedua, di puisi Kahlil Gibran kita bisa menemui pemaknaan terhadap perjumpaan dengan yang hakiki setelah perpisahan. Setelah berpisah dengan orang-orang tercinta lewat pintu kematian, tentu kita berharap berjumpa dengan Sang Pencipta dan lewat kasih sayangNya, semoga kita memperoleh kehidupan kekal yang lebih baik.

Demikianlah pemaknaan terhadap kata-kata Kahlil Gibran tentang perjumpaan, semoga dapat menyadarkan kita untuk menerima takdir hidup terhadap perjumpaan dan perpisahan serta mempersiapkan yang terbaik untuk perjumpaan dan kehidupan yang lebih kekal nanti.

Selanjutnya : Biaya Kuliah di Sekolah Tinggi Transportasi Darat
Sebelumnya: Definisi Peristiwa Kejiwaan dan Gejalanya
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar