Karakter Suku Chaniago

Suku Shaniago atau yang lebih dikenal dengan Suku Caniago merupakan salah satu suku induk di Minangkabau, dan merupakan salah satu dari empat suku pertama. Nenek moyang suku ini adalah para perantau yang terdampar di perairan selatan Sumatera karena diterjang badai. Karakter Suku Chaniago yang perantau membuat mereka menemukan ‘wilayah tak bertuan’ yang menjadi tempat tinggal mereka selamanya, jadilah mereka dijuluki sebagai perantau yang memiliki tempat tinggal.

Suku Shaniago merupakan perantau ulung. Perantau adalah karakter alami mereka. Hal ini bisa dirujuk pada asal mula nenek moyang mereka yang merupakan perantau yang terdampar karena badai. Hingga kini, masyarakat Minangkabau dikenal sebagai salah satu suku perantau terbesar di Nusantara, karakter dasar yang ditularkan dari nenek moyang mereka, termasuk Suku Shaniago.

Loading...

Penyebaran Suku Shaniago sendiri hampir tersebar di semua wilayah di pesisir selatan Sumatera, mulai dari Padang, Solok, Agam, hingga Riau. Meskipun penyebarannya cukup jauh, namun Suku Shaniago sendiri tidak memiliki sub-suku sebagaimana kebanyakan suku-suku lainnya.

Suku Shaniago merupakan suku yang demokratis. Setiap keputusan diambil berdasarkan musyawarah mencari mufakat, kebenaran adalah berasal dari suara yang disepakati bersama. Peraturan adat berasal dari kesepakatan yang sudah disetuji bersama, dan harus dijalani bersama-sama pula.

Suku Shaniago tidak terlalu meninggikan kasta seseorang. Tinggi dan rendahnya kasta seseorang tidak terlalu penting, sebab yang paling penting adalah tanggungjawab terhadap pekerjaan dan tugas yang dipikulnya. Semua kasta, kaya dan miskin, diperlakukan sama. Masyarakat juga merupakan masyarakat yang toleran, mereka menerima pendatang dari suku lain dengan tangan terbuka.

Suku Shaniago menunjuk seorang pemimpin yaitu seorang pusaka kaum sebagai pemangku adat, yang dipilih berdasarkan musyawarah mufakat. Jika pusaka kaum itu sudah tua, maka boleh dipilih penggantinya meskipun sang pemimpin belum meninggal, hal ini dilakukan demi lancarnya tampuk pemerintahan adat, namun gelar sang pemimpin yang belum meninggal hanya bisa digantikan atau dialihkan jika pemimpin tersebut sudah meninggal.

Selain pemimpin adat, Suku Shaniago juga menunjuk beberapa penghulu. Penghulu memiliki beberapa tingkatan, yang berfungsi sebagai penyelenggara hukum adat.

Setiap tingkatan penghulu memiliki  fungsi yang berbeda, mereka duduk sesuai fungsinya dalam adat, atu yang dikenal dengan istilah ‘duduk sehamparan, tegak sepematang’. Itulah beberapa karakter dasar Suku Shaniago, salah satu suku pertama di Minangkabau.

Loading...
Selanjutnya : Permainan Age Of Empires Untuk Mengasah Otak
Sebelumnya: Program Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Menggunakan Excel
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar