Etika Budaya dan Contoh Kasus Bisnis Internasional


Meski telah memiliki aturan yang lebih jelas tapi tidak jarang muncul kasus bisnis internasional yang melibatkan perusahaan antar negara. Biasanya kasus tersebut lebih sering berkaitan dengan masalah etika, hak cipta, dan sejenisnya.

Tapi untungnya saat ini sudah ada beberapa lembaga internasional yang bisa diharapkan untuk membantu mengatasi sengketa antar perusahaan internasional misalnya WTO atau World Trade Organizatioan, ITC atau International Trade Centre, dan sebagainya.

Etika dalam Bisnis Internasional

Yang namanya kasus bisnis selalu menimbulkan baik dari pihak penggugat sendiri maupun pihak tergugat. Oleh karena itu, sebaiknya masing-masing pelaku usaha selalu mematuhi aturan serta etika dalam berbisnis dengan mitra kerjanya yang berasal dari luar negeri.

Karena kasus atau sengketa yang berujung di pengadilan biasanya tidak menimbulkan dampak kerugian material saja tapi juga non materi. Contohnya nama perusahaan yang jadi tercemar dan kredibilitas yang menurun. Kondisi tersebut membuat tingkat kepercayaan dari konsumen serta pelanggan jadi menurun, sehingga mengakibatkan angka penjualan yang juga ikut menurun.

Pada era yang dinamakan era pasar bebas seperti sekarang ini pelaku usaha memang tidak hanya berhadapan dari dalam negeri saja melainkan juga luar negeri. Namun pada sisi yang lain sistem pasar bebas juga memunculkan harapan baru untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan luar sekaligus memperluas pangsa pasar atau ekspor.

Namun demikian, karena masing-masing pelaku usaha tersebut berasal dari negara-negara yang berbeda dan punya latar belakan budaya sertai pola pikir yang tidak sama. Kadang kala masalah ini bisa menimbulkan silang pendapat yang berujung pada gugatan di pengadilan internasional.

Contoh Kasus

Seorang pelaku perusahaan dari Amerika mendapat order daging sapi dari pelaku usaha lain asal Indonesia. Sebagaimana diketahui, sebagian besar warga Indonesia merupakan penganut agama Islam. Jadi masalah daging sapi tidak hanya berhubungan dengan standar kesehatan, tapi juga berkaitan dengan proses penyembelihan hewan ternak yang harus sesuai dengan syariah.

Padahal di Amerika sendiri, proses penyembelihannya tidak pernah memikirkan urusan tersebut. Perbedaan budaya serta cara pandang seperti ini mengakibatkan order yang sebenarnya sudah disetujui oleh keduabelah pihak bisa menjadi batal bahkan berujung pada gugatan.

Untuk mengatasinya, sebelum perjanjian jual beli daging sapi tersebut dibuat seharusnya juga dicantumkan bahwa pengusaha dari Amerika harus bisa mendatangkan daging sapi yang proses penyembelihannya dilakukan sesuai dengan syariah Islam. Selain itu harus melibatkan lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikat halal.

Saat ini kasus bisnis internasional seperti yang disebut di atas memang sudah jarang terjadi. Tapi masih banyak sengketa lain yang sumber masalahnya berhubungan dengan budaya dan adat yang berbeda-beda di masing-masing negara.

Selanjutnya : Melihat Beragam Kasus-kasus Penyimpangan Sosial
Sebelumnya: Macam-macam Kasus Atau Bentuk Korupsi di Indonesia
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar