Keadaan Ekonomi Indonesia Sekarang, Penak Jamanku Tho?

Keadaan ekonomi Indonesia sekarang sungguh memprihatinkan. Mungkin founding father bangsa ini akan menangis bila mereka melihat carut-marutnya perekonomian tanah air. Ini bisa dilihat dari kesenjangan ekonomi, tidak ratanya pembangunan, belum ditambah kisruh politik dan terlebih penyakit akut korupsi. Indonesia yang konon sudah merdeka, kini dijajah barang impor yang membanjiri pasar. Harga kebutuhan barang pokok naik, rakyat menjerit, tak ada solusi. Lantas, salah siapa ini?

Perekonomian Indonesia

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini mungkin mengingatkan kita pada krisis 1998. Kala itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dan rupiah terjun bebas terhadap dollar Amerika. Tahun 2008, kejadian itu pun berulang.

Bedanya, selang satu dasawarsa itu minus krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Pasca 1998, lahirlah reformasi. Suatu rezim yang diyakini bakal lebih baik daripada Orde Baru. Namun nyatanya, apakah memang lebih baik?

Tak salah kemudian jika muncul anekdot di pelbagai sudut kota soal sindiran terkait masa Orba. Coba perhatikan di dinding kota, selebaran di tembok, atau tulisan yang yang hiasi tutup belakang truk. Jika Anda beruntung, pasti mendapati kalimat ini: “Pie, penak jamanku tho?”. Ya, kalimat tanya itu merujuk pada era mantan Presiden Soeharto.

Dimana masa-masa yang diklaim paling stabil, paling kondusif, dan masa dimana harga sembako serta BBM tak pernah dikeluhkan rakyat. Era Pak Harto sendiri dipaksa berakhir setelah mahasiswa mendewakan reformasi. Sekali lagi, apakah lebih baik?

Pada tahun 1998 rupiah sempat melejit di angka Rp 17.000 per 1 dollar-nya. Saat BJ Habibie naik ‘tahta’, beliau mampu mengerem hingga di level Rp 9 ribuan. Kala itu banyak terjadi PHK, harga-harga naik dengan cepat, jumlah orang miskin bertambah, dan banyak perusahaan nasional serta multinasional harus gulung tikar. Kekhawatiran sempat terjadi pada tahun 2008. Akibat krisis global yang melanda dunia, kala itu ekonomi Indonesia terombang-ambing terkena dampaknya.

Memang tidak fair jika membandingkan keadaan ekonomi Indonesia sekarang dengan tahun 2008 apalagi tahun 1998. Namun, bila pemerintah tidak berhati-hati, bisa saja sejarah kelam ekonomi ini berulang.

Orang-orang dibalik pemerintah harus meredam rasa egois mereka, tanggalkan kepentingan individu serta golongan, dan mulai memikirkan bangsa ini. Jangan sampai negara ini ‘pingsan’ lagi setelah mencoba untuk ‘siuman’ setelah dihantam krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008.

Selanjutnya : Pembahasan Kelenjar Pada Ketiak Bayi
Sebelumnya: Menerapkan Pendidikan Islam Sejak Dini dalam Keluarga
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

//adsnya disini