Kepercayaan Bangsa Bugis yang Masih Bertahan

Bugis merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Suku ini dikenal senang merantau sehingga menyebar ke daerah lain seperti Minangkabau bahkan Malaysia. Saat ini bangsa Bugis sudah banyak yang memeluk agama Islam. Sebelum Islam masuk, kepercayaan bangsa Bugis adalah To Lotang.

To Lotang

Loading...

To Lotang memiliki arti orang selatan. Dalam kepercayaan ini, bangsa Bugis lama menyembah tuhannya yang diberi nama Dewa Seuwae yang berarti Tuhan Yang Tunggal. Orang Bugis menyebutnya dalam bahasa Bugis dengan sebutan Sisinae. Berdasarkan literatur yang ada, Dewa Seuwae pertama kali dipuja oleh Sawerigading. Pemujaannya tersebut banyak diikuti oleh yang lainnya dari generasi ke generasi sehingga terbentuklah sistem kepercayaan To Lotang.

Sebagai sebuah kepercayaan, To Lotang memiliki kitab suci yang bernama La Galigo. Pemerintah Indonesia tidak mengakui To Lotang sebagai sebuah agama, melainkan hanya aliran kepercayaan. Karenanya La Galigo dikategorikan sebagai sebuah teks karya sastra semata. Namun bagi bangsa Bugis penganut kepercayaan ini, La Galigo adalah sebuah kitab suci yang sakral. Saking sakralnya, sebelum membacanya harus melakukan ritual khusus.

Bangsa Bugis membaca La Galigo dengan cara dinyanyikan. Pembacaan ini dilakukan di saat-saat istimewa tertentu seperti pesta pernikahan, membangun rumah, musim tanam, maupun doa bersama tolak bala.

Ajaran di dalam La Galigo dipelajari dan dilaksanakan secara turun temurun. Pengajarannya dilakukan secara lisan oleh tokoh kepercayaan ini kepada para pengikutnya. Tokoh kepercayaan To Lotang sering juga disebut uwak yang berjumlah tujuh orang. Ketujuh uwak tersebut dipimpin oleh seorang Uwak Battoa.

Para uwak tersebut memiliki tugas masing-masing. Di antaranya adalah bertugas dalam bidang sosial kehidupan sehari-hari masyarakatnya, melaksanakan ritual tertentu yang telah ditentukan dalam sistem kepercayaan, serta menangani masalah kebutuhan hidup seperti bercocok tanam.

La Galigo diketahui ditulis pada abad ke-13. Di dalam kitab ini ada bagian yang mengisahkan tentang proses awal masuknya pengaruh agama Islam ke Bugis. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa selain sebagai pegangan hidup, La Galigo juga merupakan media islamisasi bangsa Bugis.

Itulah ulasan tentang kepercayaan bangsa Bugis.

Loading...
Selanjutnya : Daftar Hotel Murah di Lembang
Sebelumnya: Artikel Cara Berwirausaha yang Praktikal
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar