Kesimpulan Perang Pattimura


Banyak penelitian yang dilakukan oleh ahli sejarah untuk mengungkap terjadinya perang Pattimura yang telah berkobar berabad-abad yang telah lalu.

Tidak hanya para peneliti dari Indonesia, namun yang paling getol dan sering melakukan penelitian adalah orang-orang ahli sejarah asing yang malah sangat tertarik dengan sejarah bangsa ini. Mereka banyak membuat kesimpulan perang Pattimura, dengan hasil penelitian mereka yang dapat dipertanggung jawabkan.

Salah satu penelitian yaitu menceritakan bahwa pemberontakan Pattimura pecah pada akhir Interregnum (kekuasaan) Inggris, pada tahun 1818, ketika Maluku diserahkan kembali kepada Belanda. Ketidakpuasan yang menyebabkan pemberontakan itu terjadi adalah agama dan ekonomi.

Penelitian tersebut menelusuri penyebab ketidakpuasan ini karena terjadinya Kristenisasi dari Kepulauan dan mengabaikan konsekuensi dari gereja Ambon oleh penguasa Belanda khususnya di abad ke-18. Ini mempengaruhi posisi kepala kelembagaan saat itu, khususnya kepala sekolah atau pendeta yang saat itu bertentangan dengan Bupati, merupakan pemimpin adat tertinggi masyarakat.

Banyak pemimpin pemberontakan berasal dari kelompok ini. Penindasan mungkin telah menjadi bagian dari system, tetapi hal ini tidak disadari sampai akhirnya Inggris datang.

Relaksasi kekuasaan Inggris takut dipengaruhi oleh kekuasaan rezim Belanda sebelumnya, akhirnya mengakibatkan fobia ketika diketahui bahwa Belanda kembali.

Hal ini, dikombinasikan dengan ketidakmampuan pejabat setempat dalam mengambil alih dari Inggris, ditambah agitasi anggota batalion (tentara) asli yang akhirnya dibubarkan, batalion ini didirikan oleh pemerintah Inggris sehingga menyebabkan pemberontakan berdarah tahun 1817. Jalannya pemberontakan ini ditelusuri secara rinci, dari keberhasilan sebelumnya Matulesia karena kekalahan kaum revolusioner.

Akhirnya konsekuensi jarak pendek dan jangka panjang dieksplorasi. Kesimpulan perang Pattimura adalah bahwa perang ini adalah pemberontakan, yang dipandang sebagai sesuatu abrasi setelah tiga ratus tahun kontak dan simbiosis dari kerjasama dengan Eropa.

Dimana memiliki efek negatif bagi penduduk lokal yang tampaknya menjadi kontroversial, dan semakin memperkuat ikatan antara Belanda dan Maluku Selatan.

Dikatakan juga bahwa peningkatan populasi saat itu mulai disadari oleh penduduk lokal, bahwa tidak ada prospek yang baik bagi penduduk lokal dalam budidaya rempah-rempah mereka untuk pasar Eropa, karena hanya merupakan pengambilan keuntungan sepihak saja.

Tapi hal itu merupakan kerjasama yang erat dengan pemerintah Belanda dalam hal pelayanan militer dan sipil, dimana akan memberikan penduduk lokal ruang lingkup dalam posisi khusus pemerintahan baik daerah atau instansi Belanda.

Hal ini hanya dirasakan oleh kaum minoritas Kristen di kepulauan Indonesia, namun hal itulah yang menjadi gesekan signifikan dengan mayoritas penduduknya Muslim.

Selanjutnya : Khasiat Giok, si Hijau Penuh Manfaat
Sebelumnya: Tips Memilih Hadiah untuk Pernikahan Kakak dan Teman
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar