Kisah Mistik Soeharto, Kesaksian Juru Kunci Makam


Cerita tentang mantan Presiden RI ke 2, H.M. Soeharto ini rasanya tak pernah habis. Dari sejak masa hidupnya dengan berbagai sensasi dan permasalahannya sebagai kepala negara hingga kejadian mistik yang meliputi sejak pemakaman, hingga sesudahnya.

Kisah mistik Soeharto memang menarik untuk dicermati, karena berasal langsung dari Juru Kunci Astana Giribangun tempat Soeharto dan istrnya, Tien Soeharto dimakamkan.

Kejadian Mistik Saat Pemakaman Soeharto

Komplek pemakaman Astana Giribangun terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Selain keluarga Soeharto, di sini pun dimakamkan keluarga dari dinasti Mataram, tepatnya di Astana Mangadeg, sebelah tenggara dari Astana Giribangun. Karena letak kedua makam yang berdekatan inilah, mitos bermula. Ada anggapan bahwa kedua makam tersebut merupakan lokasi yang sakral. Hal tersebut juga dirasakan oleh Sukirno, Juru Kunci makam Astana Giribangun.

Kejadian mistik pun bermula sejak prosesi pemakaman Soeharto, langit redup dan semilir angin mengiringi pemakamannya. Hal ini dianggap oleh sebagian kalangan yang menghadiri pemakaman, sebagai isyarat sambutan alam atas penguburan jasad Soeharto.

Tidak hanya itu, beberapa bulan sebelum kabar meninggalnya Presiden RI itu, terjadi sebuah longsor mendadak di bawah bukit Astana Giribangun. Tentu peristiwa itu mengejutkan berbagai pihak, dan beredarnya keyakinan akan adanya peristiwa mengejutkan yang akan menimpa Astana Giribangun. Ternyata, selang beberapa bulan dari peristiwa tersebut, Soeharto pun meninggal dan dimakamkan di sana.

Selain itu, menjelang upacara pemakaman dilakukan rangkaian tradisi upacara Bedah Bumi yang biasa dilakukan untuk mengiringi proses pemakaman. Pemakaman Soeharto sendiri dilakukan pada 27 Januari 2008. Upacara Bedah Bumi dilakukan oleh keluarga dan disaksikan oleh banyak tokoh serta kalangan yang hadir.

Upacara dipimpin oleh pemuka masyarakat yang sekaligus menjabat sebagai Bupati Wonogiri, yaitu Begug Purnomosidi. Bedah Bumi dilakukan dengan cara menancapkan linggis ke tanah pemakaman 3 kali, agar proses pemakaman bisa berjalan dengan lancar.

Saat penancapan yang pertama dan ke dua, berlangsung dengan lancer. Namun, pada penancapan yang ke tiga terjadi kejadian yang mengejutkan, yaitu terdengarnya ledakan keras yang tidak jelas asalnya dari mana. Kejadian ini dianggap sebagai bentuk kesiapan bumi untuk menerima jasad Soeharto.

Kisah mistik Soeharto ini, dipercaya oleh sebagian pihak. Namun, hanya dianggap sebagai sebuah kebetulan semata oleh pihak yang lain. Percaya atau tidak, tergantung pada pilihan dan keyakinan Anda melihatnya dari sudut pandang yang mana.

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

Kisah Mistik Soeharto, Kesaksian Juru Kunci Makam

 

Kata Kunci Utama            : Kisah Mistik Seoharto

Meta Tag                             : Mantan Presiden RI ke 2, Juru Kunci Astana Giribangun, Komplek Pemakaman Astana Giribangun, Makam Keluarga Dinasti Mataram, Kejadian Mistik, Prosesi Pemakaman Soeharto, Upacara Bedah Bumi

 

Cerita tentang mantan Presiden RI ke 2, H.M. Soeharto ini rasanya tak pernah habis. Dari sejak masa hidupnya dengan berbagai sensasi dan permasalahannya sebagai kepala negara hingga kejadian mistik yang meliputi sejak pemakaman, hingga sesudahnya. Kisah mistik Soeharto memang menarik untuk dicermati, karena berasal langsung dari Juru Kunci Astana Giribangun tempat Soeharto dan istrnya, Tien Soeharto dimakamkan.

 

Komplek pemakaman Astana Giribangun terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Selain keluarga Soeharto, di sini pun dimakamkan keluarga dari dinasti Mataram, tepatnya di Astana Mangadeg, sebelah tenggara dari Astana Giribangun. Karena letak kedua makam yang berdekatan inilah, mitos bermula. Ada anggapan bahwa kedua makam tersebut merupakan lokasi yang sakral. Hal tersebut juga dirasakan oleh Sukirno, Juru Kunci makam Astana Giribangun.

 

Kejadian mistik pun bermula sejak prosesi pemakaman Soeharto, langit redup dan semilir angin mengiringi pemakamannya. Hal ini dianggap oleh sebagian kalangan yang menghadiri pemakaman, sebagai isyarat sambutan alam atas penguburan jasad Soeharto. Tidak hanya itu, beberapa bulan sebelum kabar meninggalnya Presiden RI itu, terjadi sebuah longsor mendadak di bawah bukit Astana Giribangun. Tentu peristiwa itu mengejutkan berbagai pihak, dan beredarnya keyakinan akan adanya peristiwa mengejutkan yang akan menimpa Astana Giribangun. Ternyata, selang beberapa bulan dari peristiwa tersebut, Soeharto pun meninggal dan dimakamkan di sana.

 

Selain itu, menjelang upacara pemakaman dilakukan rangkaian tradisi upacara Bedah Bumi yang biasa dilakukan untuk mengiringi proses pemakaman. Pemakaman Soeharto sendiri dilakukan pada 27 Januari 2008. Upacara Bedah Bumi dilakukan oleh keluarga dan disaksikan oleh banyak tokoh serta kalangan yang hadir. Upacara dipimpin oleh pemuka masyarakat yang sekaligus menjabat sebagai Bupati Wonogiri, yaitu Begug Purnomosidi. Bedah Bumi dilakukan dengan cara menancapkan linggis ke tanah pemakaman 3 kali, agar proses pemakaman bisa berjalan dengan lancar.

 

Saat penancapan yang pertama dan ke dua, berlangsung dengan lancer. Namun, pada penancapan yang ke tiga terjadi kejadian yang mengejutkan, yaitu terdengarnya ledakan keras yang tidak jelas asalnya dari mana. Kejadian ini dianggap sebagai bentuk kesiapan bumi untuk menerima jasad Soeharto.

 

Kisah mistik Soeharto ini, dipercaya oleh sebagian pihak. Namun, hanya dianggap sebagai sebuah kebetulan semata oleh pihak yang lain. Percaya atau tidak, tergantung pada pilihan dan keyakinan Anda melihatnya dari sudut pandang yang mana.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Selanjutnya : Perlukah Indonesia Mempunyai Kapal Induk
Sebelumnya: Apakah Suku Mayoritas di Suriname?
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar