Kisah Rendah Hati Jokowi


Sepak terjang pasangan Jokowi-Ahok di DKI Jakarta sudah mulai membuahkan hasil. Gaya Ahok yang tegas dalam menangani preman dan oportunis patut diacungi jempol. Pas dalam mengimbangi sosok Jokowi yang terlihat lebih halus dalam bertindak.

Sekarang sudah dapat dilihat perbedaan Jakarta dibandingkan masa pemerintahan gubernur-gubernur koruptor yang sibuk mengeruk kekayaan pribadi. Kali yang semula jorok dibersihkan, jalanan yang semrawut dengan kaki lima dirapikan.

Bahkan secara perlahan tampak perbedaan pada trotoar Jakarta yang mulai ramah pada pejalan kaki. Kisah rendah hati Jokowi memang sudah terdengar hingga mancanegara, kisah ini pula yang mengantarnya menjadi orang nomor 1 di DKI Jakarta.

Rakyat Solo mana yang tidak kenal dengan Jokowi. Sosok yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini memang sosok yang rendah hati, dekat dengan wong cilik. Tak heran dia dua kali menjadi walikota terpilih di Solo. Sayang para periode yang kedua dia tak menyelesaikan masa jabatannya karena keburu dinanti rakyat Jakarta untuk membenahi ibukota yang berantakan tersebut.

Berbeda dengan para pejabat yang merakyat demi pencitraan, tampaknya Jokowi benar tulus. Penghematan besar-besaran dilakukan di pemerintahan agar dana yang seharusnya dinikmati rakyat bisa tersampaikan secara maksimal.

Bahkan dia tidak mengambil hak gajinya selama menjadi walikota di Solo. Mengingatkan kita pada sosok Nelson Mandela yang menyisihkan gajinya sebagai presiden agar dapat dinikmati oleh rakyatnya. Karena saat itu Mandela merasa gajinya terlalu besar.

Ketika menjabat walikota di Solo, Jokowi pun tidak membeli mobil dinas baru. Dia menggunakan mobil dinas walikota sebelumnya. Padahal mobil dinas tersebut telah melampaui 10 tahun masa pakai wajar. Banyak gebrakan progresif dilakukannya selama memimpin di Solo.

Pengembangan kota-kota di Eropa pun menjadi acuan untuk penerapan di kota di Jawa Tengah tersebut. Perubahan yang pesat pun dialami oleh Solo, pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat dia relokasi hampir tanpa gejolak. Semua berkat cara pendekatannya yang merakyat, saling pengertian, dan tidak otoriter. Sehingga tujuan untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka pun tercapai.

Hal serupa pun dia lakukan bersama Ahok dalam merelokasi para pedagang kaki lima yang membuat macet jalanan di Tanah Abang. Semoga DKI Jakarta juga dapat merasakan dua kali masa jabatan Jokowi. Demikianlah kisah rendah hati dari seorang pemimpin besar.

Selanjutnya : Mengetahui Langkah-langkah Membuat Sinopsis Buku
Sebelumnya: Jenis Gempa yang Terjadi di Yogyakarta Tahun 2006
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar