Kondisi Ekonomi Masyarakat Indonesia


Perkembangan terbaru di pasar Indonesia mencerminkan apa yang terjadi akibat faktor jangka panjang dan jangka pendek. Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia juga menjelaskan  ada potensi dan juga ada pelemahan.  Potensinya ada pada pasar yang semakin tumbuh dan geliat ekonomi kecil yang mulai menjadi pemain utama menyisihkan program ekonomi besar.  Itu semua berlangsung tanpa proteksi pemerintah. Kelemahannya tentu saja proteksi pemerintah kadang jatuh ke lubang asupan yang salah. Hal ini secara jangka panjang akan menjadi isu perdebatan.

Faktor Jangka Panjang

Faktor-faktor jangka panjang ini meliputi berbagai isu yang telah menjadi sumber komentar di Indonesia untuk beberapa waktu ini. Pada tingkat yang lebih luas, faktor ini tampaknya telah memengaruhi kebijakan selama setahun atau lebih. Pembuat kebijakan ekonomi senior telah menekankan pendekatan dan mencari cara untuk memperkuat industri di Indonesia dengan jalan yang tidak proteksionis.

Kebijakan semacam ini diyakini pembuat kebijakan akan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia dengan menyediakan keamanan ekonomi yang lebih besar yang akan melindungi baik produsen maupun konsumen Indonesia dari keanehan kondisi internasional yang tidak menentu. Dengan proteksi saja, Indonesia bisa ikut arus asing yang latah melakukan proteksi yang akhirnya membuang energi percuma dan malah akan menjadikan suatu pangsa pasar jadi mentah alih-alih berprospek.

Kebijakan-Kebijakan Jangka Panjang

Ada banyak yang bisa dikatakan untuk tujuan jangka panjang membangun industri skala industri kecil dalam negeri Indonesia sambil bisa menekankan tujuan utama seperti ketahanan pangan dan energi. Sejumlah kebijakan yang dipublikasikan selama beberapa tahun terakhir pemerintahan SBY ini agak intervensionis dan bisa dibilang memiliki rasa antipasar, misalnya kebijakan antiimpor yang tidak diimbangi dengan penyediaan maksimum di dalam negeri. Bilangnya swasembada, tapi buktinya kosong.  Menolak impor bagus, tapi menghilangkan ketersediaan pasar adalah konyol.

Lebih konyol lagi adalah sektor migas, sebelumnya ekspor Migas kita kuat dan pendapatan pemerintah bisa digenjot selama tahun 1980 dan 1990-an. Indonesia, sebelumnya bangsa pengekspor minyak yang signifikan, kini telah menjadi importir minyak dan tingkat kenaikan impor minyak telah menjadi ketegangan yang signifikan pada neraca pembayaran. Walaupun ini bisa diartikan sebagai belanja minyak yang produktif di pasar, tetapi Indonesia bukan Cina.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia dengan penjelasan tentang impor minyak di atas masih berada dalam tanda tanya besar, artinya kebutuhan dalam negeri ini tidak pernah jelas secara jangka panjang. Pemerintah lebih senang melakukan kebijakan jangka pendek, bermain resiko peraturan yang populis, sambil berharap pasar domestik menyelamatkan ekonomi secara umum.

Selanjutnya : Cara Memijat Kaki Kumpulan Tips
Sebelumnya: Ludah Kelenjar Penghasil Saliva
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar