Kritik Ki Hajar Dewantara kepada Belanda

Kritik Ki Hajar Dewantara terkenal frontal dan menjadi ancaman bagi kolonial Belanda pada masanya. Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia ini memberikan perlawanan melalui pemikirannya yang kritis. Di antara sekian banyak kritik pedasnya, yang terjadi pada masa kolonial Belanda, beberapa waktu setelah pendirian partai politik pertamanya Indische Partij di tolak oleh Belanda.

Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Soeardi Soeryaningrat, lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara ini merupakan salah satu pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia sejak masa kolonial Belanda sampai pendudukan Jepang. Semasa berjuang Ki Hajar Dewantara berteman baik dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan seorang keturunan Belanda Douwes Dekker.

Pejuang yang Aktif

Ki Hajar Dewantara merupakan seorang pejuang sekaligus pemikir yang aktif. Semasa mudanya sudah aktif dalam kegiatan organisasi. Organisasi yang diikutinya semasa muda adalah organisasi Boedi Utamo pada tahun 1908.

Selain aktif di Boedi Utomo, bersama kedua rekannya Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara membentuk sebuah partai politik pertama di Indonesia, yaitu Indische Partij.

Namun, pendirian partai politik ini mendapat kecaman dari Belanda karena dianggap akan mengancam pemerintahan Belanda dengan membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri masyarakat Indonesia. Penolakan dari pemerintah Belanda tidak menyurutkan semangat juangnya.

Pejuang yang Kritis

Ki Hajar Dewantara merupakan pejuang yang kritis. Kritik Ki Hajar Dewantara yang terkenal frontal terjadi pada masa pemerintahan Belanda, setelah penolakan pendirian Indische Partij.

Penolakan pendirian partai Indische Partij ini tidak menyurutkan semangat Ki Hajar Dewantara dan kawan-kawan untuk terus berjuang. Beberapa bulan kemudian, Ki Hajar Dewantara membentuk sebuah komite yang disebut dengan komite Bumipoetra.

Tujuan pembentukan komite ini tentu saja sebagai bentuk protesnya kepada pemerintah Belanda, yang ingin mengadakan pesta kemerdekaannya atas Perancis tetapi menggunakan uang rakyat Indonesia. Kemudian Ki Hajar Dewantara memberikan kritik tajamnya yang dituangkan ke dalam tulisan yang berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda, yang berbunyi sebagai berikut.

Kritik yang dilontarkan oleh Ki Hajar Dewantara di atas membuat pemerintah Belanda menjadi gusar dan memberikan hukuman kepada Ki Hajar Dewantara. Bersama dengan kedua rekannya Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, mereka dihukum dengan hukuman buang atau dalam bahasa Belanda di sebut dengan hukuman internering. Mereka dibuang ke negeri Belanda, dan selama pembuangan mereka menempuh pendidikan dan mendapat gelar Europeesche Akte.

Demikianlah ulasan singkat mengenai kritik Ki Hajar Dewantara yang terkenal frontal kepada pemerintah Belanda hingga mendapat hukuman pembuangan. Semoga perjuangan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara di atas bisa menjadi spirit kita untuk terus melanjutkan perjuangan. Semoga bermanfaat.

Selanjutnya : Cara Menentukan Kord untuk Lagu
Sebelumnya: Asmaul Husna Arti dari Al Hasiib dan Manfaatnya
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar

loading