Kumpulan Buku Puisi yang Terlaris dari Penyair Kondang Indonesia


Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri adalah dua penyair kondang Indonesia. Walau hidup di dua masaberbeda, namun karya-karya mereka termasuk dalam kumpulan buku puisi yang terlaris menginspirasi dan memberi warna tersendiri pada dunia sastra.

Antologi (kumpulan) puisi dua penyair dengan karakter berbeda ini, dapat kita nikmati dalam karya mereka berjudul “Deru Campur Debu” (Chairil Anwar) dan“O Amuk Kapak” (Sutardji Calzoum Bachri). Berikut ini akan kita kupas antologi kedua penyair tersebut.

1.  Deru Campur Debu – Chairil Anwar

Siapa tak kenal dengan nama besar Chairil Anwar? Penulis puisi “Aku” yang fenomenal tersebut, bahkan diakui sebagai pelopor puisi Angkatan ’45 bersama dua penyair lainya, yaitu Rivai Apin dan Asrul Sani. Chairil Anwar juga dianggap sebagai pionir dalam ranah puisi modern Indonesia.

Tema yang diangkat dalam puisi-puisinya bervariasi, mulai dari tema kematian, religi, pemberontakan, individualisme, eksistensialisme, hingga multi interpretasi (banyak penafsiran) seperti dalam puisi “Aku”.

Chairil Anwar tercatat telah menghasilkan 96 karya sastra. Dari jumlah tersebut, 70 di antaranya berupa puisi. Nah, dalam antologinya berjudul “Deru Campur Debu” memuat 28 puisi Chairil Anwar seperti “Aku”, “Senja di Pelabuhan kecil”, “Ini Kali Tidak Ada yang Mencari Cinta”, “Cintaku Jauh di Pulau”, “Kawanku dan Aku”, “Kepada Kawan”, “Doa”, “Kepada Peminta-minta”, “Cerita Buat Dien Tamaela”, “Sebuah Kamar”, dan “Hampa”.

2.  O Amuk Kapak – Sutardji Calzoum Bachri

Jika Chairil Anwar dikenal dengan puisi-puisi ‘revolusioner’nya, maka Sutardji Calzoum Bachri lebih dikenal dengan puisi-puisi ‘mbeling’ yang keluar dari pakem sastra. Puisi Sutardji Calzoum Bachri memiliki bentuk aneh karena ketidaktaatan pada aturan penulisan puisi pada umumnya. Namun, keunikan dalam karya-karyanya tersebut menjadi cikal bakal kelahiran suatu genre baru dalam penulisan puisi, yaitu puisi sebagai ungkapan jiwa yang terbebas dari segala macam aturan atau belenggu dalam hal penulisan.

Pada antologi “O Amuk Kapak” kita akan menikmati 67 puisi-puisi ‘mbeling’ penyair kelahiran Riau, 24 Juni 1943 itu, seperti “Sih Ka Win Ka” (Tragedi Winka dan Sihka), “Mantera”, “Hemat”, “Ah”, “Batu”, “Tapi”, “Daging”, “Para Peminum”, “Ngiau”, “Hilang (Ketemu)”, “O”, “Luka”, dan “Walau”.

Kehadiran kumpulan buku puisi yang terlaris karya kedua penyair ini, semakin memperkaya penulisan puisi di Indonesia. Mendobrak tatanan lama dunia sastra sekaligus menginspirasi siapa pun yang membacanya.

Selanjutnya : Nama Kerajaan Bali
Sebelumnya: Cara Membuat Website Anda Agar Menarik Banyak Pengunjung
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar