Cinta dalam Kumpulan Puisi Selamat Jalan Sahabat


Ada apa di dalam kumpulan puisi selamat jalan sahabat? Pertanyaan itu menjadi penting untuk menakar seberapa besar perhatian penyair atas kepergian seorang sahabat. Tentu saja kepergian dalam multidimensional seperti halnya karya sebuah puisi, yang senantiasa membuka ruang untuk masuknya beragam tafsir. Dalam kumpulan puisi selamat jalan sahabat ini, juga diharapkan membuka ruang itu. Ruang untuk penafsiran arti sahabat, arti cinta dan arti kepergian itu sendiri.

Kepergian bagi siapapun tak hanya keluarnya seseorang dari sebuah rumah menuju tempat lain, atau perginya seseorang meninggalkan tempat asalnya untuk menuju satu tempat yang baru. Demikian pula ketika menjadi puisi, kepergian bisa ditafsirkan beragam yang memberi arti beragam pula. Kepergian bisa berarti kematian, akhir kehidupan di dunia fana menuju keabadian. Kepergian juga bisa diartikan sebagai kehilangan atau tercerabutnya sebuah yakinan yang selama ini dipegang teguh karena beragam sebab. Kepergian bisa dalam arti sesungguhnya yaitu meninggalkan tempat lama menuju tempat baru.

Penulis puisi Dwiandari yang menulis puisi “Selamat Jalan Sahabat” ditujukan kepada seorang sahabat yang pergi dalam arti sesungguhnya, yaitu melakukan perjalanan dari satu tempat lama menuju tempat baru, meninggalkan “aku” yang merana.

Tapi seperti juga ungkapan emosional yang sering terlontar dari dua orang sahabat yang kemudian berpisah, apalagi dua orang yang saling bercinta kemudian berpisah, selalu menggugat pada waktu: bukan perpisahan yang ditangisi, tapi pertemuan yang disesali. Demikian pula dalam puisi Diwiandari, pada bait akhir yang kurang lebih berarti sama: untuk takdirmu dalam takdirku/sungguh aku tidak sedang menangisi pergimu/tapi biarlah air ini mengalir dari kedua mataku/sebagai ucapan selamat jalan untukmu sahabat//.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari puisi tersebut adalah kalau memang hubungannya sebatas sahabat, yang tanpa harus saling memiliki, kenapa perpisahan itu demikian disesali? Apakah justru pada persahabatan yang telah terbina, sesungguhnya sedang ada butir-butir cinta yang mulai menuntut agar tersedia tempat untuk menyemaikannya?

Atau karena waktu yang telah demikian sangat membantu, mengkristalkan yang tidak ada menjadi ada, yang tidak kenal menjadi sahabat, yang tidak suka menjadi bentuk kompromi? Boleh jadi memang demikian. Seperti ditulis dalam bait kedua: tapi air ini terus mengalir dari mata dan hidungku/ketika sadar ini terkhir ku dapat menatap indah senyummu/waktu telah pertemukan kita/waktulah yang menjalin begitu banyak rangkaian kisah diantara kita//. Itulah satu dari kumpulan puisi selamat jalan sahabat ini.

Selanjutnya : Pembuatan Media Jamur Tiram Sederhana
Sebelumnya: Contoh Kerangka Karya Tulis Ilmiah Tentang Kebersihan di Sekolah
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar