Manusia Modern dan Kunci Ikhlas dalam Sesuatu

Ketika hidup kian sibuk bagi orang-orang modern mereka cenderung masuk ke mode autopilot. Mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan dan kemudian pindah ke hal berikutnya, dan hanya berhenti sejenak sekadar memeriksa ulang apa yang kurang, mengingat sumber daya yang mereka miliki itu terbatas.

Dengan demikian, orang modern cenderung menjadi terisolasi dalam dirinya sendiri karena pikiran mereka fokus ke diri sendiri. Maka dari itu orang yang bisa lepas dari fokus pada dirinya saja, menjadi kunci ikhlas dalam sesuatu.

Loading...

Karena sesibuk-sibuknya orang, dia masih punya radar sosial. Sesuatu yang menjadikannya ingin dihargai karena dia ikut menghargai. Seperti orang yang sempat berkunjung ke galeri lukisan, mereka yang ingin merasakan karya seni, sebenarnya telah mencoba belajar ikhlas melihat perspektif orang dalam berimajinasi.

Maka dari itu, ada pameo bahwa bangsa yang menghargai karya seni, adalah bangsa yang mau diajak maju karena tidak ada sekat lagi antara dirinya dengan orang lain, dia menerima sudut pandang orang lain

Alasan untuk memuji bekerja dengan baik adalah karena membuat kedua belah pihak merasa baik dan stalemate, mendapatkan satu hal dan satu pemberian. Juga karena dalam rangka untuk memberikan pujian yang tulus, dan itu modal besar untuk bisa duduk semeja dan bicara banyak hal, bukan soal kesibukan Anda pribadi, tapi bagaimana kesibukan Anda tidak saling langgar dengan kesibukan orang lain. Dalam hal ini, kita lagi lagi mesti belajar cara orang Jepang mengapresiasi sesamanya.

Orang Jepang punya cara begitu baik dalam memberikan komplemen pada orang lain, dan respek pada orang demi masa depan mereka sendiri. Ada dua hal menjadi kuncinya, yakni menerima pandangan dunia asing, di permukaan, dan tetap menjaga jati diri di bagian jiwa.

Jika Anda bertanya, mengapa bangsa Jepang begitu cepat bangkit setelah perang, itulah kunci ikhlas dalam sesuatu yang dinamakan tulus memandang situasi riil, termasuk mengapresiasi musuh yang mengalahkan mereka, dalam hal ini AS.

Mereka menerima syarat AS sebagai pihak penakluk dan bernegosiasi utuk menyusun masa depan lebih baik. Mereka terima pujian dan makian, di permukaan, dan tetap menjadi diri sendiri di dalam hati. Itulah ikhlas.

Loading...
Selanjutnya : Sejarah Wakaf dalam Islam
Sebelumnya: Tempat Wisata Kuliner Murah tapi Enak di Daerah Bogor
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar