Makalah tentang Olahraga Tradisional dari Jawa Barat – Benjang


Tanah Sunda kaya akan berbagai khasanah kebudayaan. Dari mulai kesenian keseharian, tembang/lagam, nilai-nilai hidup, bahkan sampai pada bidang olahraganya. Salah satu olahraga tradisional yang berakar asli dari budaya Sunda adalah Benjang. Pada sajian kali ini akan membahas mengenai point-point utama yang bisa dikembangkan dalam membuat makalah tentang olahraga tradisional terutama olahraga tradisional dari Jawa Barat, Benjang.

Olahraga Benjang

Olahraga Benjang sudah sejak lama dikenal masyarakat yaitu sekitar  tahun 1850 dengan tokohnya yang terkenal adalah H. Yayat dan Wiranta. Mengenai asal muasal Benjang, ada dua pendapat yang menyebutkan bahwa Benjang berasal dari desa Ciwaru Ujungberung. Tetapi, ada juga yang menyebutkan asalnya dari Cibolerang, Cinunuk. Terbukti sampai saat ini, di kampung tersebut banyak berkumpul tokoh-tokoh Benjang yang setia mempertahankan eksistensi Benjang sampai saat ini.

Di nusantara pun ada olahraga tradisional yang sama dengan Benjang, seperti di Nanggroe Aceh Darussalam dikenal dengan nama Gedou-gedou. Di tanah Tapanuli dikenal dengan sebutan Marsurangut, di Rembang disebut Atol, di Jawa Timur dikenal dengan nama Patol, Bahempas di Banjarmasin, dan di daerah Bugis Sirroto.

Olahraga Benjang pada dasarnya menggabungkan teknik pencak silat dan gulat. Dalam permainan tradisional ini, para pemain memiliki keahlian dalam menjatuhkan lawan dengan teknik-teknik kuncian pada kaki. Ketika seorang pemain terjatuh, dengan segera dia akan mengunci kaki pemain satunya. Dengan begitu pemain tersebut dapat terjatuh dan dengan mudah pemain yang dibawah dapat dengan mudah membalikkan posisinya. Seorang pemain Benjang dikatakan kalah apabila dalam kondisi terlentang di bawah.

Sebenarnya, permainan Benjang ini berasal dari pondok pesantren yang bernafaskan keislaman. Sebelum bertanding, para pemain selalu memanjatkan do’a agar permainan berlangsung tanpa ada gangguan dan mendapat lindungan-Nya. Dari pondok pesantren, kesenian Benjang ini kemudian berkembang ke masyarakat. Biasanya, kesenian tradisional Benjang ini dilakukan (ditanggap – bahasa Sunda) pada saat sukuran panen, upacara pernikahan atau sunatan, kelahiran 40 hari bayi, dan berbagai acara lainnya.

Di masyarakat, permainan Benjang biasanya melibatkan pemain berjumlah 20 sampai 25 orang yang terdiri atas satu orang pemimpin Benjang, sembilan orang penabuh, dan sisanya adalah pemain Benjang itu sendiri. Alat yang digunakan sebagai pengiring Benjang adalah terbang, kendang, pingprung, kempring, kempul, kecrek, tarompet, bedug yang kemudian diiringi dengan pirigan lagu Sunda.

Demikian beberapa point ulasan singkat sebagai bahan dalam pengembangan materi makalah tentang olahraga tradisional yang berasal dari Tanah Sunda, Benjang. Besar harapan semoga olahraga tradisional seperti ini tidak hilang di telan zaman dan masih bisa eksis seperti yang selama ini diperjuangkan oleh para pendekar-pendekar Benjang lakukan.

Selanjutnya : Skripsi Pengaruh Kompensasi terhadap Kinerja Karyawan
Sebelumnya: Cara Mengedit Menggunakan Photo Scape
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar