Membuat Puisi Tentang Sampah


Ketika seseorang menuangkan pikirannya untuk membuat puisi tentang sampah, ada hal yang cukup menarik. Sampah identik dengan kebusukan, ketidakberdayaan, dan mental sebagai pecundang. Jadi, puisi yang bercerita tentang sampah tidak hanya bisa dimaknai sebagai puisi yang mencerminkan perasaan kita terhadap lingkungan yang semakin kotor, tetapi juga, lebih jauh lagi, bisa dimaknai sebagai puisi ekspresi seseorang yang kehilangan jati diri.

Membuat Puisi dengan Tema Sampah

Sampah identik dengan segala hal yang menjijikkan, yang membuat semua orang berpaling darinya. Seringkali seseorang merasakan hal yang demikian dalam hidupnya. Pasti ada momen ketika ia merasa tak berarti, dan mengambil metafora ‘sampah’ untuk menampilkan perasaannya saat itu. Misalnya, dalam puisi berikut.

membuat puisi tentang sampah1

Dalam baris puisi di atas terlihat bahwa aku lirik, merasakan keputusasaan besar dalam hidupnya. Bahkan posisinya yang sebagai sampah, masih saja mendapatkan tekanan dari orang-orang yang tidak menyukainya, dimusnahkan hingga tak bersisa. Si aku yang terkucil, tak berguna, kemudian menyumpahi dirinya sendiri untuk mati di balik jeruji besi. Sesuatu yang menggambarkan ekstremitas beban mental aku lirik.

Kadang kala, kita juga tidak perlu membubuhkan kata ‘sampah’ dalam puisi ini untuk menampilkan kelemahan. Seringkali, keadaan yang menyedihkan karena patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan, dapat menghasilkan tuangan kalimat yang menandakan aku lirik, bahkan lebih parah daripada sekadar sampah.

membuat puisi tentang sampah2

Dalam puisi di atas, aku lirik baru saja dicampakkan kekasihnya dan trauma atas sakit hati ini mengurungnya sepanjang musim. Bahkan waktu yang berlalu bagaikan memerolok dirinya. Kondisi demikian menggambarkan sifat-sifat ‘sampah’ tidak punya pengharapan untuk esok.

Puisi itu juga bisa mencerminkan ketidaksetujuan seseorang pada kehidupan yang terlalu mementingkan materi. Baginya, orang-orang yang berlomba-lomba mencari kekayaan, tak lebih dari sampah yang mengotori esensi kehidupan itu sendiri.

membuat puisi tentang sampah3

Di sini, terlihat bahwa aku lirik berusaha mengambil perbandingan ironis, bahwa mereka yang meninggalkan dunia, bisa jadi bahagia karena terlepas dari jeratan perangkap tempat fana ini. Sebaliknya, mereka yang terlahir, menangis karena perjalanan membuat dosa, menciptakan sampah, baru saja dimulai. Sudah terwakilkan puisi tentang sampah dalam dunia penuh dosa ini.

Selanjutnya : Aransemen Musik Zaman Dulu: Perubahan Musik Modern
Sebelumnya: Langkah-Langkah Facial Sendiri dengan Bahan Alami
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar