Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu


Menang jadi arang kalah jadi abu adalah peribahasa Indonesia yang berarti dalam suatu konflik baik pihak yang menang ataupun pihak yang kalah sama-sama tidak mendapat keuntungan dan sama-sama menderita kerugian. Makna peribahasa ini menyiratkan pesan bahwa tidak ada gunanya sesama manusia saling bertengkar baik itu pertengkaran mulut maupun perkelahian fisik.

Contoh dalam Konflik

Peribahasa menang jadi arang lalu kalah jadi abu secara nyata ditunjukkan oleh berbagai peristiwa misalnya Perang Bubat Majapahit-Siliwangi, perang saudara di Afrika, konflik SARA di Ambon, Poso, Sambas, dll. Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah perselisihan atau peperangan hanya membawa kehancuran bagi kedua belah pihak yang berselisih atau berperang.

Makna Peribahasa

Peribahasa Kalah Jadi Abu dan Menang Jadi Arang menyatakan bahwa kalah atau menang dalam suatu pertikaian tidak akan menguntungkan pihak yang bertengkar. Nasehat peribahasa menang kalah jadi abu menuntun perilaku manusia untuk dapat hidup rukun dan harmonis dengan sesama manusia lainnya. Di Indonesia, peribahasa banyak terpengaruh Budaya Melayu yang bersyair sederhana namun mengandung perenungan mendalam.

Ironisnya, dalam Teori Konspirasi bisa jadi ada pihak lain yang diuntungkan atau mengambil keuntungan dari kedua pihak yang bertikai tersebut. Hal ini banyak dilakukan pada masa penjajahan Belanda dengan Politik Divide Et Impera ketika Belanda mengadu domba kerajaan-kerajaan di nusantara untuk memecah-belah persatuan dan menguasai sumber daya alam strategis di Indonesia.

Arti kalah jadi abu menang jadi arang secara harafiah menggambarkan bahwa kayu yang dibakar maka sisa pembakarannya akan menjadi arang dan akan menjadi abu. Hal ini sekarang tampak pada peristiwa tawuran antar mahasiswa beda fakultas yang merugikan mereka sendiri karena mahasiswa yang terlibat tawuran mendapat sanksi, kegiatan perkuliahan terganggu karena fasilitas kampus dirusak, dan nama baik serta akreditasi kampus menurun.

Cara menghindari

Untuk menghindari kondisi menang jadi arang dan kalah jadi abu, maka perlu dilakukan gerakan cinta damai, rekonsiliasi konflik, komunikasi intensif, dan mengembangkan tolerasi antar umat beragama. Seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama membentuk generasi cinta damai dan mewariskan budaya cinta damai dari generasi ke generasi.

Untuk lebih memahami menang jadi arang kalah jadi abu, anda bisa merujuk Kamus Peribahasa atau ulasan peribahasa ini dari berbagai artikel di internet. Semoga anda bisa membawa pesan dari peribahasa ini dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial anda. Salam damai.

Selanjutnya : Akibat Pencemaran Udara terhadap Lingkungan
Sebelumnya: Memahami Petunjuk Buat Karya Ilmiah
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar