Belajar Wawancara dari Tayangan Mata Najwa di Metro TV


Metro TV adalah salah satu stasiun televisi yang konsumsi tayangannya lebih mengarah kepada berita. Bagi Anda yang bercita-cita ingin menjadi jurnalis, maka sering-sering menyaksikan acara tayangan berita yang didirikan oleh PT Media Televisi Indonesia ini. Anda bisa pilih bagaimana para reporter dalam mewawancarai narasumber.

Televisi milik Surya Paloh ini kerap memberikan pertanyaan yang mampu mengungkap permasalahan. Umumnya, stasiun televisi ini benar-benar ingin memberikan informasi dan pengetahuan terpenting untuk masyarakat yang sesui dengan slogannya “Knowlagde to Elevate”.

Di antara siaran berita yang menarik untuk dijadikan pembelajaran wawancara adalah Mata Najwa. Cukup banyak informasi dan pengetahuan yang didapat masyarakat saat menyaksikan tayangan wawancara face to face yang dilakukan oleh Najwa Shihab, putri dari Prof. H. Quraisy Shihab ini.

Modal Dasar Jurnalis

Dari tayangan Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV ini, Anda bakal mengetahui, paling tidak, ada tiga modal dasar yang mesti dimiliki oleh seorang jurnalis.

1. Berani Bertanya

Dari tanyangan Mata Najwa, kita menjadi paham bahwa tugas utama jurnalis adalah bertanya dan bertanya. Sehingga dilihat dengan seksema bahwa jurnalis tidak boleh berhenti untuk bertanya.

Apa pun harus bisa dijadikan bahan untuk bertanya.Termasuk, bertanya tentang sesuatu yang sudah diketahui, baik oleh dirinya maupun orang lain. Sehingga boleh dikatam bahwa jurnalis mesti percaya pada matanya, penglihatannya. Juga percaya pada telinganya, pendengarannya. Juga percaya pada tangannya, perabaannya.

2. Peka

Seorang jurnalis mesti peka. Kata-kata yang ditanyanya bisa menjadi senjata untuk mengungkap suatu peristiwa atau kejadian. Seorang jurnalis mesti memiliki mata yang jelalatan. Peka yang ditimbulkannya mesti memunculkan rasa kaget. Kekagetannya tersebut yang menyebabkannya bisa menimbulkan banyak pertanyaan sehingga lahirnya informasi dan pengetahuan yan baru.

3. Skeptis

Bila diperhatikan dari cara Najwa Shihab dalam mewawancara, tampak sekali ia seperti orang yang curiga. Bahkan dapat dikatakan ia seperti orang yang skeptis terhadap fakta yang disaksikannya. Ibaranya, seorang jurnalis boleh menerima fakta apa adanya, namuan ia tidak boleh menelan fakta tersebut dengan mentah-mentah begitu saja. Bagi jurnalis, fakta itu benar, tapi belum tentu mengandung kebenaran.

Meski demikian, seorang jurnalis tidka perlu terlalu terbebani untuk mencari kebenaran sekaligus. Sebab, kebenaran itu berkembang. Ia terungkap lewat penelusuran yang tiada lelah, lewat penyingkapan yang telaten.

Inilah beberapa hal yang menjadi pelajaran tentang jurnalis saat menyaksikan tayangan Mata Najwa di Metro TV. Semoga bermanfaat.

Selanjutnya : Bermain Catur Hebat
Sebelumnya: Belajar Excel dan Ekstensinya
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar