Peran Militer di Masa Orde Baru dalam Konflik dan Tragedi Nasional


Peran militer di masa orde baru khususnya terkait konflik yang terjadi di negeri ini jumlahnya tidak sedikit. Setidaknya, ada beberapa tragedi yang mengindikasikan jika pihak militer ada di balik konflik itu atau setidaknya mendukung terjadinya peristiwa yang terjadi. Selengkapnya sebagai berikut

Malari (1974)

Doktrin militer kala itu, to killed or to be killed, tertanam kuat di tubuh militer (ABRI). Peristiwa Malari dimulai tatkala unjuk rasa besar-besaran kala menyambut kedatangan PM Jepang. Tentara atau militer yang mengamankan situasi, menganggap para demonstran bukan bagian dari anak bangsa. Mereka dipandang sebagai aksi separatis yang wajib dibumihanguskan. Doktrin di atas tidak mengindahkan aspirasi yang dibawa para demonstran. Imbasnya Jakarta jadi tak terkendali dan mencekam. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di pelbagai sudut kota.

Tanjung Priok (1984)

Asia Wacth miliki laporan jika kasus ini menelan korban jiwa 200 – 600 orang. Versi militer di angka 10 korban jiwa. Sedangkan, versi lembaran putih menyebut 40 orang tewas. Kasus ini dimulai ketika personel tentara menutup poster di Mushola as-Sa‘adah. Mereka masuk musala bahkan tak lepaskan alas kaki. Bahkan, mereka sempat menyiram poster dengan air got. Imbasnya personel tentara dihajar massa di Pasar Koja. Empat orang kemudian ditahan dan massa sambangi Polres Jakarta Utara untuk membebaskan mereka. Kedatangannya ini justru disambut dengan empat kendaran panser besar. Bentrokan hebat kemudian terjadi dan menelan beberapa korban jiwa.

Trisakti (1998)

Tragedi ini terjadi pada 12 Mei 1998. Sebuah catatan suram republik ini yang kembali menelan korban jiwa mahasiswa. Setidaknya, empat mahasiswa Universitas Trisaksi harus meregang nyawa. Dengan dalih peluru nyasar, militer enggan akui itu sebagai ulah mereka. Padahal, peluru-peluru nyasar itu menembus bagian vital di kepala, dada, serta leher. Tragedi Trisaksi erat kaitannya dengan Krisis Ekonomi 1998. Sebuah krisis multidimensional yang merambat masuk ke krisis kepercayan dan politik. Tak hanya mahasiswa Trisakti, hampir seluruh mahasiswa dari penjuru negeri berduyun-duyun lakukan aksi damai long march ke gedung MPR/DPR.

Itulah tiga tragedi yang bisa menggambarkan bagaimana peran militer di masa orde baru. Masih banyak konflik dalam negeri lainnya yang bisa dijadikan cermin kuatnya militer waktu itu. Sebut saja kasus DOM di Aceh, peristiwa 27 Juli 1996, dan Tragedi Semanggi I.

Selanjutnya : Profil Model Seksi Majalah FHM
Sebelumnya: Kiat Memulai Bisnis Ayam Potong
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar