Musik dan Tarian Kuda Lumping Jawa


Musik dan tarian kuda lumping Jawa sangat diminati sebagai tontonan yang menghibur bagi masyarakat. Kebudayaan tradisional ini hingga sekarang masih sering ditemui di pedesaan maupun di daeran pinggiran kota. Pertunjukan seni kuda lumping ini merupakan gabungan dari berbagai macam kesenian seperti seni tari, seni vokal, seni musik dan seni spiritual.

Musik dan tarian kuda lumping berasal dari Jawa Timur. Kuda lumping masih banyak ditemui di daerah Tulungagung, Trenggalek, Malang, Blitar dan beberapa daerah di Jawa Timur. Namun tarian kuda lumping ini juga sering ditemui di daerah Jawa Tengah.

Sejarah tarian kuda lumping diawali sebagai dukungan rakyat terhadap perang Diponegoro yang menghadapi Belanda dengan menggunakan hewan kuda sebagai tunggangannya. Dan hal ini diaplikasikan di dalam tarian kuda lumping. Tarian ini digunakan sebagai hiburan masyarakat awam sebagai hiburan yang murah. Prosesi tarian kuda lumping dibagi di dalam 3 babak yaitu fragmen tari buto lawas, tari senterewe dan tari begon putri.

Fragmen tari buto lawas dibawakan oleh penari pria berjumlah 4-6 orang dan diantaranya terdapat penunggang kuda yang dibuat dari anyaman bambu. Penunggang kuda tersebut menggerakkan tubuhnya secara berirama mengikuti alunan musik yang dimainkan. Suara pecutan merupakan tanda dimulainya permainan kuda lumping dan kekuatan mistis mulai masuk. Pemain kuda lumping mulai kesurupan roh halus.

Fragmen tari senterewe merupakan babak yang menghadirkan penari wanita untuk turut serta di dalam permainan tarian kuda lumping. Penari wanita ini juga bergerak secara ritmis mengikuti dari alunan musik yang diperoleh dari musik tradisional.

Fragmen tari begon putri merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian yang telah ditampilkan di tarian kuda lumping. Pada babak ini penari berjumlah 6 orang dan semua penari adalah wanita. Penari ini menari dengan gerakan yang lebih santai.

Makna dari pertunjukan musik dan tarian kuda lumping Jawa menggambarkan tentang 2 sifat manusia yaitu kepribadian yang baik dan kepribadian yang buruk. Tarian kuda lumping harus dilestarikan agar tidak punah karena merupakan warisan budaya Nusantara.

Selanjutnya : Potensi Musik Indonesia di Mata Dunia
Sebelumnya: Musik Asia yang Bernada Pentatonik
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar