Nilai yang Terkandung dalam Sila Pertama Pancasila


Pancasila diakui banyak orang Indonesia sebagai dasar negara. Ada yang sampai fanatik dengan memekik “Pancasila harga mati!”. Namun ada juga yang mengecam dasar negara ini karena tidak sama dengan aturan agamanya.

Pemaknaan ini terus berlanjut sampai meninjau nilai-nilai di dalamnya. Salah satu yang menjadi banyak dibahas adalah nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila.

Sila pertama ini berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalimat ini kadang begitu teduh, namun bisa menjadi mengerikan. Kalimat ini sering menjadi dalih untuk memberangus kaum tertentu yang katanya tidak bertuhan. Namun itu masa lalu, masalah mengenai sila pertama ini lebih luas sekarang ini.

Saat ini bahkan antar umat yang percaya adanya Tuhan saling mendebat sila pertama ini. Dalam sila pertama ini Tuhan diberi tambahan konfiks ke- dan -an.

Konfiks ini bisa merujuk sifat dari sesuatu. Alih-alih berbunyi “Tuhan yang Maha Esa” sila pertama ini memilih untuk memakai kata “Ketuhanan”.

Dengan merujuk sifat Tuhan yang lebih universal, maka makna Ketuhanan dalam sila pertama ini merujuk pada kehidupan sosial agama.

Toleransi beragama mungkin menjadi salah satu tujuan utama dari sila pertama ini. Hal ini juga akan sesuai dengan sejarah saat berubahnya Piagam Jakarta menjadi Pancasila.

Sila pertama yang awalnya ditujukan bagi umat Islam yang harus melaksanakan syariat, diganti dengan bunyi yang kita hapal sampai sekarang. Semua ini konon demi kemajemukan bangsa yang harus disatukan tanpa diskriminasi.

Hal ini ditunjukkan juga dengan pemilihan kata “esa” daripada “eka”. Eka berarti satu atau tunggal. Banyak yang mengartikan esa dengan makna tunggal.

Memang benar, namun esensinya berbeda. Kemanunggalan ini bukan berarti secara wajib makna “Ketuhanan” harus dirujuk pada persona yang tunggal. Jadi jangan jadikan alasan “esa” ini untuk memojokkan agama lain yang personifikasi Tuhannya tidak sama dengan agama kita.

Demikian penjelasan mengenai nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila. Semoga bisa bermanfaat bagi kita dan membuat kita lebih memaknai lagi mengenai keberagaman antar umat beragama di Indonesia.

Selanjutnya : Kelebihan dan Kelemahan Teori Pertukaran
Sebelumnya: Beberapa Cara Mencegah Banjir
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar