Pahlawan Indonesia yang Melawan Belanda dan Terlupakan


Sekali penjajah, akan tetap menjajah, once oppression always opress. Begitulah kiranya apa yang dipandang oleh penyakit yang bernama penjajahan oleh Karl Marx.

Di Indonesia, istilah menjajah itu baru kita kenali seketika kita mendapat pendidikan kesetaraan yang dilakukan oleh para nasionalis. Merekalah pahlawan Indonesia yang melawan Belanda tanpa peluru oleh karenanya mudah terlupakan.

Taruhlah satu nama Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet yang lahir pada 13 Mei 1883.  Dia tinggal di Indonesia dari tahun 1913 sampai 1918.

Ia tinggal di koloni dan malah mengubahnya menjadi anti-kolonialis. Sneevliet membenci cara Belanda memerintah. Ia menjadi anggota Uni Rail dan Tram staf.

Ini serikat buruh moderat unik karena memiliki kontak baik dengan pekerja Belanda dan Indonesia. Karena Henk Sneevliet adalah aktivis serikat perdagangan yang baik, ia mampu mengubah serikat ini menjadi suara yang kuat.

Munculnya gerakan komunisme Internasional memberikan panggung bagi orang seperti Sneevliet mengusung perjuangannya, termasuk di Indonesia dengan berdirinya PKI.

Dan barangkali inilah alasan mengapa kepahlawanannya dalam mengangkat derajat kesetaraan di Indonesia, dimana dia ingin melihat orang Indonesia tidak terjajah dengan jalan feodalisme, baik feodalisme kerajaan maupun feodalisme budaya dan agama.

PKI sendiri mati muda di Indonesia, dan gerakannya tidak pernah efektif kecuali bualan-bualan akan ini dan itu, yang nyatanya tidak cocok untuk diterapkan dalam jati diri bangsa ini.

Namun, bila kita hendak melihat dari sudut pandang keadilan. Orang-orang seperti Sneevliet dan pengikutnya, entah itu Tan Malaka, Muso, Aidit bersaudara, dan penerusnya yang masih mengusung sosialisme di Indonesia pada era 2000 ini.

Bila dahulu Belanda yang datang dengan senapan dan Tank-Tank, kali ini barangkali yang dilawan adalah “Belanda” dengan kontrak kerja pengerukan minyak dan gas bumi. Karena penjajahan bisa berbentuk apa saja.

Sneevliet pada akhirnya bukan pahlawan, meskipun dia bagian dari kisah pahlawan Indonesia yang melawan Belanda dengan caranya sendiri. Namun, demi keadilan.

Jasanya kita kenang dan kita patut berterimakasih, gagasannya tentang kesetaraan juga boleh kita pelajari. Namun tindak tanduknya secara umum yang melahirkan dan memaksakan gerakan komunisme di Indonesia, tentu saja kita tolak karena tidak pas dengan kepribadian bangsa ini yang feodalis dan berbudaya luhur, tidak semua feodalis itu bentuk penjajahan.

Selanjutnya : Tanah Organosol Gambut dan Ciri-ciri Organosol Lainnya
Sebelumnya: Contoh Sinopsis Cerita Fiksi
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar