Pemikiran Ekonomi Modern Mengenai Tenaga Kerja


Pemikiran ekonomi modern mengenai tenaga kerja tentu berbeda dengan teori klasik, dan teori neo-klasik. Jika teori klasik menitikberatkan pada kuantitas (jumlah) tiga hal: sumber daya alam, sumber daya manusia (tenaga kerja), serta modal, maka dalam teori ekonomi modern yang terjadi adalah sebaliknya.

Teori Ekonomi Modern

Dalam teori ekonomi klasik, misalnya yang dicetuskan oleh Adam Smith  (1723-1790) harga sebuah barang yang diproduksi sangat bergantung pada kuantitas tenaga kerja. Semakin banyak sumber daya manusia yang digunakan untuk menciptakan barang tersebut, maka harga barang tadi semakin tinggi.

Pertumbuhan ekonomi juga dititikberatkan pada upaya untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Untuk melakukan hal ini modal akan ditambah, skala produksi ditingkatkan. Otomatis, kebutuhan terhadap tenaga kerja akan bertambah pula. Kemudian, hal ini disusul dengan kenaikan upah tenaga kerja. Namun, pada titik inilah kemudian akan terjadi hukum bandul lonceng.

Ketika tenaga kerja bertambah banyak, hasil keuntungan yang didapatkan akan semakin berkurang, sementara sumber daya alam yang turut menjadi faktor produksi, terbatas. Akibatnya, upah menurun, dan kebutuhan tenaga kerja akan berkurang.

Konsep yang mirip diadopsi oleh teori neo-klasik. Dalam pemikiran ini, kuantitas tenaga kerja tetap menjadi kunci pertumbuhan ekonomi. Semisal dalam model pertumbuhan  Robert Solow, dipaparkan bahwa antara capital (modal) dan tenaga kerja harus ada kesesuaian. Salah satu melebihi yang lain, yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Tenaga kerja lebih banyak menyebabkan upah relatif turun terhadap suku bunga, dan capital yang lebih banyak membuat suku bunga turun di bawah upah.

Namun, teori klasik dan neo klasik ini kurang relevan lagi karena yang menjadi patokan adalah penambahan atau pengurangan faktor produksi (dalam hal ini tenaga kerja) semata. Dalam teori ekonomi modern, ada sekian banyak faktor produksi, semisal teknologi yang dari waktu ke waktu terus berkembang, kewirausahaan, dan sebagainya. Yang dipentingkan bukan lagi kuantitas tenaga kerja, melainkan kualitasnya.

Kualitas tenaga kerja yang digabungkan dengan teknologi yang mumpuni menjadi faktor kunci keberhasilan ekonomi. Dengan demikian pemikiran ekonomi modern mengenai tenaga kerja kontras sekaligus lebih detail dibandingkan teori-teori sebelumnya.

Selanjutnya : Contoh Surat Penawaran Asuransi Jiwa Zurich
Sebelumnya: Jaringan Telkomnet Instan bagi Pengguna Internet Aktif
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar