Kondisi Pendidikan pada Zaman Penjajahan

Kondisi pendidikan zaman penjajahan di Indonesia bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Ketika itu, sekolah yang bagus hanya diperuntukkan kaum priyayi dan masyarakat tertentu saja, sehingga masyarakat miskin dan orang pinggiran semakin terpuruk dalam kubang kebodohan.

Sekolah Pribumi

Sekolah untuk rakyat pribumi ketika itu adalah Sekolah Rakyat, sekolah ini diminati karena cenderung menerima semua siswa dari berbagai kalangan. Namun, lambat-laun Belanda mulai mengawasi semua lembaga pendidikan yang ada, pelajaran yang boleh diajarkan harus disetujui Penjajah Belanda.

Kondisi ini membuat banyak pejuang kemerdekaan yang merintis mendirikan lembaga pendidikan untuk rakyat pribumi. Umumnya, lembaga pendidikan yang banyak dirintis saat itu adalah pendidikan berbasis Islam yang diserukan para ulama, yang berbentuk pesantren dan madrasah. Sejarah mencatat, jumlah pesantren yang berdiri pada masa penjajahan lebih banyak daripada sekolah resmi di bawah penjajah Belanda.

Meski pendidikan pesantren semakin semarak, namun bayang-bayang penjajah membuat lembaga pendidikan yang ada saat itu tidak tenang dalam melangsungkan proses pelajar-mengajar. Banyak lembaga pendidikan yang melangsungkan pembelajaran secara diam-diam, sehingga para pengajar banyak diburu.

Penjajah membatasi sekolah-sekolah yang didirikan perintis kemerdekaan dan mengawasi setiap lembaga pendidikan yang ada ketika itu. Bahkan, pemerintah penjajah mendirikan sekolah-sekolah sendiri untuk melancarkan proses doktrinasi pada masyarakat pribumi.

Pembubaran Pesantren

Pesantren dan madrasah yang oleh Belanda dicurigai mengajarkan doktrin anti Belanda dibubarkan secara paksa. Ketika itu, lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren memang menyerukan doktrin anti penjajah dan menyusun kekuatan bawah tanah untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini membuat sejumlah kyai diburu dan ditangkap.

Tindakan Belanda yang semena-mena itu membuat para santri dan kyai di sejumlah pesantren semakin membenci penjajahan Belanda. Inilah yang menjadi awal mula seruan perlawanan. Pendidikan di Indonesia mengalami pasang surut di bawah jajahan Belanda.

Hal ini karena kebijakan Belanda tidak bisa ditebak. Terkadang Belanda membuka pintu lebar-lebar lembaga pendidikannya untuk masyarakat pribumi, namun di sisi lain Belanda menyerukan doktrin yang sepaham dengan misi penjajahan, sehingga menguntungkan pihak Balanda sendiri.

Beruntung, kondisi semena-mena ini berakhir setelah para pejuang kemerdekaan berhasil memukul mundur penjajah Belanda. Setelah penjajahan berakhir, kondisi pendidikan di Indonesia pun berangsur-angsur berkembang semakin maju ke arah yang lebih baik. Demikian sekilas uraian mengenai kondisi pendidikan zaman penjajahan Belanda.

Loading...
Selanjutnya : Landasan Pelaksanaan Kedaulatan Hukum di Indonesia
Sebelumnya: Toko Parfum Original BTC Bandung
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar