Pengolahan Batu Berharga Dengan Cara Tradisional


Pengolahan batu berharga dengan cara tradisional banyak dijumpai di sejumlah daerah pengrajin batu mulia. Contohnya di Martapura, Kalimantan Selatan dan Pacitan, Jawa Timur. Pada kedua daerah tersebut  terkenal dengan tambang batu mulia. Di Martapura terdapat sentra pengasahan intan yang dikerjakan secara sederhana.   Dari pengambangan maupun proses pembuatan semua memakai cara konvensional.

Uniknya proses-proses demikian ternyata dapat menarik wisatawan asing. Mereka datang langsung ke lokasi pertambangan, ingin melihat bagaimana cara penambang mencari batu mulia.  Demikian juga sentra-sentra pembuatan batu mulia, tak sepi dari kunjungan turist.

Di Pacitan, yang alamnya tandus berbukit-bukit, ternyata menyimpan banyak pontensi batuan mulia yang bisa diolah menjadi batu akik, bernilai ekonomis tinggi.  Diskripsinya semua itu menjadi paket wisata menarik. Sehingga mampu meningkatkan omzet penjualan batu mulia seperti intan, merah delima dan masih banyak lagi.

Pengolahan Batu Berharga Dengan Cara Tradisional

Di Indonesia ada banyak potensi sumber daya alam berupa hasil tambah yang diproses secara konvensional.  Batuan biasa digali untuk keperluan material bangunan, batu urug. Ada juga jenis batuan tertentu yang proses secara sederhana untuk keperluan ornament rumah.

Namun ada satu cerita sukses di Kabupaten Gunung Kidul yang mempunyai banyak tambah batu gamping dan batu paras.   Dulu kedua jenis batuan ini sama sekali tak ada harganya.  Sebatas dipakai untuk membuat pondasi rumah.  Namun berkat seniman Yogya, batu paras diukir dengan sebegitu indahnya, dan harganya terdongkrak naik dari bahan mentah.

•    Batu paras

Gunung Kidul merupakan penghasil tambang batu paras terbesar di Indonesia. Sentra tambang batu paras antara lain di Karang Rejek, Tepus, Playen dan masih banyak lagi. Batuan ini diolah menjadi berbagai ornament hiasan rumah, patung, dan sebagainya. Batuan ini dikirim ke sejumlah daerah seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta dan tak sedikit dieskpor ke luarnegeri.

•    Batu candi

Di Kabupaten Magelang, terutama di Muntilan terkenal dengan penghasil batu plutonik / batu hitam. Batuan ini karakternya tak begitu keras, berongga-rongga. Sedari zaman kerajaan nusantara, batuan hitam dipakai untuk membuat candi, patung dan umpak dan lantai.

Hingga sekarang pun di sekitar Muntilan masih banyak sentra pematung dan pembuat ornamen candi.

Demikian sedikit tentang pengolahan batu berharga dengan cara tradisional,  yang menjadi daya tarik wisata.

Selanjutnya : Sekilas Cerita dan Gambar Naruto untuk PC
Sebelumnya: Motif Batik Parang Rusak dari Jawa Tengah
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar