Geger Cilegon 1888: Pengusiran Kolonial dari Banten

Geger Cilegon 1888 merupakan sebuah gerakan sosial yang berlangsung di distrik Anyer, Banten. Gerakan sosial atau lebih tepatnya pemberontakan yang dilakukan oleh para petani ini dipicu karena terjadinya jurang pemisah yang cukup dalam dan lebar dalam kehidupan sosial dan ekonomi khususnya di kalangan petani karena munculnya pengaruh dari bangsa kolonial yang semakin kuat di daerah tersebut. Pemberontakan ini ditujukan untuk pengusiran kolonial dari Banten dan sebagai perwujudan protes kepada para birokrat yang duduk di pemerintahan.

Pengusiran Kolonial dari Banten

Pemberontakan yang dilakukan oleh para petani ini dilatar belakangi oleh beberapa faktor yaitu pajak, kerja paksa, pengambilan lahan garapan para petani sehingga petani kesulitan menggarap lahannya sendiri, dan yang terpenting kuatnya pengaruh agama Islam yang menganggap bahwa pemerintah adalah kafir.

Pada dasarnya pemberontakan yang dilakukan oleh para petani Banten ini berawal dari masalah sosial yang kemudian melebar menjadi masalah agama dan masalah politik. Para petani menginginkan mendapatkan kembali tanah-tanah yang telah direbut oleh para tuan tanah dan oleh para kolonial.

Mereka menginginkan bahwa para pendatang tersebut tidak memiliki hak untuk menguasai tanah-tanah milik para petani Banten tersebut. Pemberontakan ini pula ditujukan untuk mengakhiri ketimpangan sosial yang telah berlangsung dan sebagai protes terhadap para tuan-tuan tanah yang memperlakukan para petani dengan semena-mena.

Geger Cilegon ini direncanakan secara matang dan disusun dengan rapi. Pemberontakan itu sendiri dipimpin oleh para haji, salah satu di antaranya adalah Haji Abdul Karim. Perlawanan para petani tersebut dimaksudkan untuk membunuh para birokrat-birokrat yang bekerja pada Belanda termasuk warga pribumi yang nyata-nyata berkerja untuk kolonial Belanda.

Tetapi, mereka tidak akan membunuh seseorang apabila mengucapkan 2 kalimat syahadat. Penyerangan ini membakar habis semua arsip-arsip penting pemerintahan kolonial dan rumah-rumah pejabat kolonial Belanda.

Akan tetapi, pemberontakan ini tidak berlangsung lama karena pasukan milliter Belanda mampu menumpas gerakan pemberontakan ini. Kekalahan peperangan di Toyomerto menjadi titik awal kekalahan pemberontak.

Sejak saat itu, pasukan pemberontak bercerai berai sehingga memudahkan Belanda untuk menumpasnya.
Satu persatu pemimpin pemberontak dapat ditangkap dan kemudian dihukum mati. Setelah matinya pemberontakan, beberapa saat kemudian muncul pemberontakan baru yang dipimpin oleh Haji Ahmad.  Geger Cilegon 1888 menjadi salah satu tonggak perlawanan rakyat terutama kaum petani dan kaum ulama dalam usaha pengusiran kolonial dari Banten.

Loading...
Selanjutnya : Aneka Peninggalan Seni Zaman Prasejarah
Sebelumnya: Sengketa Internasional Indonesia dengan Negara Lain
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar