Lemahnya Posisi Perempuan, Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga


Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) cenderung meningkat. Catatan Kementerian Hukum dan HAM, sepanjang bulan Januari hingga Maret 2013 saja, ada 919 kasus KDRT di Indonesia. Penyebab kekerasan dalam rumah tangga pada umumnya dikarenakan oleh faktor masih lemahnya posisi perempuan.

Belum adanya kesetaraan antara pihak laki-laki dan perempuan menjadi pemicu KDRT. Masih ada anggapan di masyarakat bahwa laki-laki harus kuat dan berani. Di samping itu, ada pemahaman yang salah atas ajaran agama, yang menyimpulkan laki-laki bisa menguasai perempuan.

Pemerintah sendiri sangat peduli terhadap pencegahan KDRT. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga menjadi bukti nyata.

Undang-undang ini menegaskan semua warga negara memiliki hak untuk memperoleh rasa aman serta bebas dari kekerasan. Semua bentuk kekerasan, khususnya KDRT merupakan pelanggaran HAM.

Ditegaskan juga, korban KDRT yang kebanyakan perempuan, mesti mendapatkan perlindungan Negara dan masyarakat. Tujuannya supaya terhindar serta terbebas dari kekerasan, ancaman kekerasan dan penyiksaan, atau perlakuan merendahkan martabat kemanusiaan.

Sebenarnya, tindak kekerasan terhadap istri merupakan unsur berat secara tindak pidana. Dasar hukumnya KUHP pasal 356 yang menyatakan: “Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah, ibu, istri atau anak diancam hukuman pidana”

Masih menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004, tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibagi empat macam: kekerasan fisik, psikis, seksual, dan kekerasan ekonomi.

Kekerasan fisik adalah tindakan yang mengakibatkan rasa sakit, membuat jatuh sakit atau membuat luka berat. Contohnya perbuatan menampar, meludahi, memukul, menyudut pakai rokok, menendang, melukai pakai senjata, menjambak, dan sebagainya.

Sedangkan kekerasan psikis akan mengakibatkan ketakutan, hilangnya percaya diri, kemampuan bertindak, serta tidak berdaya atau menderita psikis yang berat. Contohnya penghinaan, komentar menyakitkan, merendahkan harga diri, mengancam, mengisolir istri, dan sebagainya.

Kekerasan seksual meliputi menjauhkan istri akan kebutuhan batinnya, memaksa berhubungan seksual, memaksakan selera sendiri dalam berhubungan seksual, dan tidak pernah memperhatikan kepuasan istri.

Sementara kekerasan ekonomi contohnya tidak memberi nafkah, bahkan cenderung menghabiskan uang milik istri.

KDRT perlu ditanggulangi dengan meningkatkan keimanan dan akhlak baik, menciptakan kerukunan keluarga, membangun komunikasi suami-istri yang baik, membangun rasa saling percaya, menghargai, dan pengertian antaranggota keluarga. Seorang istri juga harus mampu mengelola keuangan dalam keluarga. Hal ini menjadi salah satu penyebab kekerasan dalam rumah tangga.

Selanjutnya : Makalah Ayat-ayat Tentang Pernikahan
Sebelumnya: Semua Jenis Samsung Galaxy dan Harga
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar