Tempat Penyiksaan Para Jenderal Korban G/30 S PKI


Pondok kecil di kawasan peringatan lubang buaya menjadi saksi bisu penyiksaan para jendral TNI AD yang dilakukan oleh PKI. Lokasi sekarang berada di kawasan Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Bapak Sukitman, saksi mata yang ikut terbawa oleh PKI bersama enam jendral dan satu perwira menengah TNI AD menyaksikan sendiri bagaimana peristiwa penyiksaan itu.

Di pondok kecil itu, ketujuh orang tersebut mengalami penyiksaan yang sadis. Perlakuan kejam seperti penusukan, pemukulan, tendangan, penyanyatan, penyeretan paksa mereka terima. Setelah mereka mengalami berbagai penyiksaan berat, tubuhnya diseret ke sebuah sumur tua berukuran sempit. Tubuh mereka dijebloskan ke dalam sumur dengan bagian kepala yang terlebih dahulu masuk ke mulut sumur. Setelah semuanya masuk ke dalam sumur kecil tersebut, mereka diberondong dengan peluru senapan. Setelah itu, sumur ditimbun dengan tanah dan permukaannya ditutupi dengan seresah daun-daun dan pohon pisang.

Saat ini, tempat penyiksaan para jendral dan seorang perwira menengah ini sudah menjadi monumen Pancasila Sakti. Pondok kecil sebagai tempat berlangsungnya penyiksaan itu dibuat relic untuk menggambarkan seperti apa situasi dan kondisi peristiwa sadis tersebut. Beberapa sosok tentara berseragam pengenal dari kesatuan Cakrabirawa, pemuda rakyat dan gerwani memperlihatkan adegan penyiksaan tersebut.

Sejarah kelam yang dialami oleh bangsa Indonesia ini tidak akan mudah terlupakan. Panasnya perang ideology yang sedang terjadi pada masa itu tak hanya di Indonesia. Geopolitik ideology dunia dari haluan kiri (komunis), demokrasi, sosialis sedang berebutan pengaruh. Presiden Soekarno pada saat itu merancang konsep Nasakom (nasionalis, agamis dan komunis). Sayangnya, konsep tersebut rapuh untuk ditegakkan. Presiden sendiri lebih condong ke sayap kiri. Akibatnya gejolak sosial politik tergoncang hebat. Tidak hanya terjadi pada level alat-alat negara, pada akar rumput pun terjadi peristiwa-peristiwa yang mengerikan.

Puncak gejolak sosial politik terjadi pada peristiwa penyiksaan para jenderal di kawasan kebun karet lubang buaya. Instabilitas negara yang terjadi pada saat itu memaksa dikeluarkannya TAP MPR yang mengatur tentang wewenang untuk pemulihan negara. TAP MPR ini diberikan kepada Mayjen Soeharto untuk menjalankan tugas negara tersebut.

Selanjutnya : Makanan Ala Ade Rai
Sebelumnya: Hidup Sejahtera Dengan Makanan 4 Sehat 5 Sempurna, Bisakah?
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar