Peribahasa Bahasa Jawa

Setiap daerah dan suku di seluruh wilayah Indonesia memiliki peribahasa yang digunakan dalam kesehariannya sesuai dengan bahasa masing-masing. Peribahasa diartikan sebagai ungkapan dalam kalimat-kalimat padat yang mengandung perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, dan aturan tingkah laku.

Penggunaan peribahasa dalam selingan komunikasi antara individu dalam masyarakat sosial bisa membantu membentuk masyarakat yang cinta damai. Isinya yang menggugah sebagai peringatan akan aturan hidup secara lembut dan halus mampu menyentuh kekerasan yang sedang terjadi. Berikut bentuk peribahasa bahasa Jawa yang dapat dikenal dan sering kita dengar:

Loading...

•    Perumpamaan

1.    Kaya nyekelin welut : sesuatu yang sulit didapat dan membutuhkan kesabaran.
2.    Kakehan gludug kurang udan: kebanyakan bicara daripada kenyataannya.
3.    Anak polah bapak kepradah: anak yang berbuat orangtua ikut menanggung akibatnya.
4.    Diwehi ati nggrogoh ampela : diberi kebaikan malah menuntut lebih banyak.
5.    Kebo nusu gudel: orangtua yang nurut anaknya.
6.    Kebo kabotan sungu: orang yang lupa daratan.

•    Pepatah

1.    Becik ketitik, ala ra rumangsa:  kalau ada hal baik ingin terlihat terlibat, kalau sebaliknya lepas tangan atau berbuat salah atau benar akhirnya ketahuan juga.
2.    Kacang ora ninggal lanjaran: sifat anak tidak berbeda jauh dari orang tuanya.
3.    Bibit, bebet, bobot: keturunan, lingkungan, dan ilmu.

•    Kata-kata Arif

1.    Urip ojo ngandelke wong tua, tapi keprimen caranengarah dewek dandelne wong tua: hidup jangan mengandalkan orangtua, tapi bagaimana caranya kita bisa diandalkan orang tua.
2.    Jer basuki mawa bea: setiap kesuksesan dan keberhasilan membutuhkan pengorbanan.
3.    Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani: di depan memberi contoh, di tengah membimbing, dan di belakang mendukung.

•    Syair

1.    Adigang adigung, adiguna: merasa paling kuat, paling agung, dan paling penting.
2.    Adhang-adhang tetese embun: berharap datangnya sesuatu meski sedikit dan tak pasti.
3.    Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana: nilai diri ada di mulut, nilai fisik ada di penampilan.

•    Pantun

Itulah beberapa bentuk dari peribahasa bahasa Jawa yang dapat sedikit digambarkan. Semoga dapat membantu memperkaya khasanah berbahasa kita.

Loading...
Selanjutnya : Artikel Ekspor Impor – Manfaat Kegiatan Impor
Sebelumnya: Mengetahui Langkah-langkah untuk Melestarikan Hewan Langka
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar