Perlawanan Bersenjata Terhadap Jepang


Perlawanan bersenjata terhadap Jepang saat kedatangan Jepang di Indonesia dimulai dari kota Tarakan pada 10 januari 1942, selanjutnya Jepang melebarkan sayapnya hingga ke Minahasa, Ambon, Pontianak, Makassar, Banjarmasin, Palembang, Bali, hingga berhasil menduduki ibukota Jakarta pada tanggal 05 Maret 1942.

Rakyat hidup lebih menderita dibawah penjajahan Jepang. Rakyat dipaksa menyerahkan hasil panennya dan menjadi romusha. Kebencian mulai berkecamuk dalam dada rakyat Indonesia, hingga mulai memunculkan perlawanan bersenjata terhadap Jepang.

Berikut ini perlawanan bersenjata di beberapa daerah di Indonesia :

1. Aceh

Pemberontakan dipimpin seorang ulama muda Tengku Abdul Jalil, di Cot Plieng, Lhokseumawe terjadi pada 10 November 1942.

Latar belakang perlawanan adalah rakyat yang dipimpin ulama di Aceh menolak mematuhi peraturan yang dikeluarkan Jepang sehingga peperanganpun tidak bisa dihindarkan.

2. Singaparna, Tasikmalaya Jawa Barat

Perlawanan dipimpin KH. Zainal Mustafa, tahun 1943. Latar belakang perlawanan adalah Beliau menolak dengan tegas ajaran Jepang yang dianggap perbuatan syirik dan merusak akidah umat Islam yaitu kewajiban untuk melakukan Seikerei setiap pagi (memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit). Selain itu, motivasi perlawanan adalah karena Beliau tidak tahan dengan penderitaan rakyat akibat tanam paksa tentara Jepang.

3. Perlawanan Peta di Blitar

Perlawanan dilakukan oleh tentara Peta yang dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail pada 29 Februari 1945. Latar belakang perlawanan adalah para prajurit Peta tidak kuasa merasakan penderitaan rakyat akibat tanam paksa, romusha atau pun penyiksanaan tentara Jepang yang di luar batas kemanusiaan.

4. Kalimantan Selatan

Perlawanan terjadi di bawah komando pemimpin suku Dayak yang berpengaruh yaitu Pang Suma di tahun 1944. Perlawanan terjadi secara gerilya dan menyulitkan tentara Jepang.

5. Irian Barat

Perlawanan ini dipimpin oleh L. Rumkorem, pimpinan Gerakan Koreri yang berpusat di Biak. Latar belakang perlawanan adalah rakyat sudah tidak sabar dengan sistem perbudakan dan penyiksaan berlebihan yang dilakukan tentara Jepang.

Mengenang sejarah perlawanan bersenjata terhadap Jepang, kita melihat betapa semangatnya pejuang Indonesia. Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini adalah bukti nyata kegigihan para pahlawan dalam mempertahankan bumi pertiwi.

Selanjutnya : Pil Diet yang Aman bagi Kesehatan Tubuh
Sebelumnya: Virus Diare
 

Artikel Menarik Lainnya

Komentar